WHO Resmi Menyebut "Gaming Disorder" sebagai Penyakit Kesehatan Mental

Jul 4, 2019 5:00 AM

Induk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengakui "gangguan permainan" sebagai kondisi kesehatan mental. Gangguan tersebut masuk dalam klasifikasi Penyakit Internasional, atau ICD-11, manual diagnostik resmi organisasi.

Memainkan banyak video game saja tidak cukup untuk dianggap sebagai gangguan. Sebaliknya, gangguan terjadi ketika bermain game mengganggu kehidupan sehari-hari orang. Menurut WHO, Game Disorder adalah "pola perilaku bermain game yang terus-menerus atau berulang" di mana orang kehilangan kendali atas perilaku bermain mereka.

Tak hanya itu, memberikan prioritas pada bermain game di atas minat dan kegiatan lain dan terus bermain game meskipun ada konsekuensi negatif, seperti gangguan pada tubuh mereka dapat menjadi ancaman lain dari penyakit ini..

Baca Juga: Main Game Online Banyak Manfaatnya, lho!


Game disorder.Source: DiseretNews
Beberapa tahun terakhir, penggunaan gadget oleh anak menarik perhatian dunia.

Seseorang biasanya mendapati gejala selama setahun untuk dapat didiagnosis dengan gangguan tersebut. Topik kecanduan video game menjadi pembahasan yang kontroversial. American Psychiatric Association (APA) tidak memasukkan kecanduan video game dalam edisi terbaru Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5), yang diterbitkan pada 2013.

Baca Juga: Rekomendasi Game Sesuai Kepribadian

Pada saat itu, APA mengatakan tidak ada cukup bukti untuk menentukan apakah kelainan permainan merupakan kondisi kesehatan mental yang unik. Akan tetapi, penelitian lebih lanjut direkomendasikan untuk seger dilakukan di daerah tersebut. 

Industri video game juga menentang klasifikasi. Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Sabtu (25 Mei), Asosiasi Perangkat Lunak Hiburan dan lainnya di industri meminta WHO untuk membatalkan keputusannya, dengan mengatakan "gangguan permainan" tidak didasarkan pada bukti yang cukup kuat untuk membenarkan inklusi.



Tetapi beberapa ahli kesehatan mental mendukung klasifikasi ini. Di Twitter, Dr. John Jiao, seorang dokter pengobatan darurat, mengatakan diagnosis itu sangat dibutuhkan. "Kalau tidak, orang-orang dengan kecanduan video game yang nyata dan sah seringkali dapat mengalami masalah dengan asuransi yang membayar untuk terapi mereka, terutama jika mereka tidak sesuai dengan diagnosa lain," ucap Jiao.

Baca Juga: Atlet Game Berusia 14 Tahun Menghasilkan $ 200.000 dengan Bermain Fortnite

Shekhar Saxena, seorang ahli kesehatan mental untuk WHO, mencatat bahwa hanya sebagian kecil orang yang bermain video game yang akan mengalami masalah kecanduan.