Pertama Kali, Otak Mampu Sinkron dengan Terapi Musik

Aug 1, 2019 5:00 AM

Profesor Jorg Fachner dan Dr Clemens Maidhof dari Anglia Ruskin University (ARU) baru-baru ini membuka hasil penelitian menarik soal otak manusia. Untuk pertama kalinya, para peneliti dapat menunjukkan bahwa otak seorang pasien dan terapis menjadi disinkronkan selama sesi terapi musik, sebuah terobosan yang dapat meningkatkan interaksi di masa depan antara pasien dan terapis.

Ini adalah studi terapi musik pertama yang menggunakan prosedur yang disebut hyperscanning, yang mencatat aktivitas dalam dua otak secara bersamaan, yang memungkinkan para peneliti untuk lebih memahami bagaimana orang berinteraksi. Selama sesi yang didokumentasikan dalam penelitian ini, musik klasik dimainkan ketika pasien membahas penyakit serius di keluarganya.

Baca Juga: Seberapa Berpengaruh Musik pada Kesehatan Manusia? Ini Penjelasannya!

Baik pasien dan terapis memakai tutup EEG (electroencephalogram) yang mengandung sensor, yang menangkap sinyal listrik di otak, dan sesi direkam selaras dengan EEG menggunakan kamera video. Terapis musik bekerja menuju "momen perubahan", di mana mereka membuat hubungan yang bermakna dengan pasien mereka.

 

MusicSource: HealthCare
Musik menjadi media terapi

Pada satu titik selama penelitian ini, aktivitas otak pasien tiba-tiba bergeser dari menampilkan perasaan negatif yang mendalam ke puncak positif. Beberapa saat kemudian, ketika terapis menyadari sesi itu bekerja, pemindaiannya menunjukkan hasil yang serupa. Dalam wawancara berikutnya, keduanya mengidentifikasi bahwa ketika mereka merasa terapi itu benar-benar berfungsi.

Para peneliti memeriksa aktivitas di lobus frontal kanan dan kiri otak di mana masing-masing emosi negatif dan positif diproses. Dengan menganalisis data hyperscanning bersama rekaman video dan transkrip sesi, para peneliti dapat menunjukkan bahwa sinkronisasi otak terjadi, dan juga menunjukkan seperti apa "terapi perubahan" yang tampak seperti di dalam otak pasien.

Baca Juga: Musik Berirama Lambat Mampu Membuat Tidur Lebih Nyenyak

Penulis utama Jorg Fachner, seorang profesor musik, Kesehatan dan Otak di Universitas Anglia Ruskin (ARU), mengatakan penelitian ini adalah tonggak penting dalam penelitian terapi musik. Terapis musik melaporkan mengalami perubahan emosional dan koneksi selama terapi, dan kami telah dapat mengonfirmasi ini menggunakan data dari otak.


MusicSource: DFCIMusic
Penyakit apapun kerap menggunakan musik sebagai alat terapi

Musik, digunakan secara terapeutik, dapat meningkatkan kesejahteraan, dan mengobati kondisi termasuk kecemasan, depresi, autisme, dan demensia. Terapis musik harus mengandalkan respons pasien untuk menilai apakah ini berfungsi, tetapi dengan menggunakan hyperscanning kita dapat melihat dengan tepat apa yang terjadi. di otak pasien.

Baca Juga: Penerjemah Bahasa Isyarat di Konser Musik

Hyperscanning dapat menunjukkan perubahan kecil yang terjadi selama terapi. Dengan menyoroti poin-poin yang tepat di mana sesi telah bekerja terbaik, itu bisa sangat berguna ketika merawat pasien yang mengalami kesulitan komunikasi verbal. Temuan kami juga dapat membantu untuk lebih baik memahami proses emosional dalam interaksi terapeutik lainnya.