Unik! Seekor Belalang Terjebak dalam Lukisan Van Gogh Selama 130 Tahun

Apr 11, 2019 3:00 AM

Penemuan kasus yang jarang terjadi muncul pada sebuah lukisan bernilai seni tinggi. Bukan sebuah polesan yang rusak, namun ditemukannya hewan yang telah mati dalam lukisan tersebut.

Kurator museum seni Nelson-Atkins, di Kansas City menguak kejadian unik. Mereka mengklaim  menemukan belalang yang mati di salah satu lukisan bernilai tinggi di galeri mereka yakni  lukisan Pohon Zaitun karya Vincent van Gogh. Hal itu diketahui saat lukisan sedang dipindai sebagai bagian dari penelitian untuk katalog koleksi lukisan Prancis.

Mary Schafer, seorang konservatori lukisan adalah orang yang mengetahui hal tersebut. Seperti dikutip The Guardian, Schafer mengatakan "Saat melihat lukisan dengan mikroskop ..Saya menemukan tubuh mungil belalang yang terendam dalam cat, saya perkirakan cat basah dalam lukisan sudah digunakan pada tahun 1889."

"Kita bisa menghubungkannya dengan lukisan Van Gogh lainnya, jadi kita berpikir dia sedang bertarung melawan unsur-unsur, berurusan dengan angin, serangga, dan kemudian dia mendapatkan kanvas basah ini sehingga dia harus kembali ke studionya melalui ladang. Tapi yang menyenangkan adalah kita bisa membuat semua skenario ini untuk bagaimana serangga dapat mendarat di cat lukisan tersebut." sambung Schafer. Ia mengatakan bahwa pihaknya ingin tahu apakah belalang dapat dipelajari lebih lanjut untuk mengidentifikasi musim apakah yang sedang dihadapi Van Gogh saat melukis Pohon Zaitun tersebut.

Baca Juga: Sejarah Bahaya Gelombang Elektromagnetik


Lukisan unik.Source: artsculture.com
Penampakan seekor belalang yang terjebak dalam lukisan selama 130 tahun.

Ahli paleo-entomologi, Michael Engel yang juga seorang kurator senior dan profesor di Universitas Kansas, dipanggil untuk memeriksa belalang lebih jauh. Dia menemukan bahwa rongga dada dan perut belalang itu sudah hilang dan tidak ada tanda-tanda pergerakan pada cat di sekitarnya. Dengan kata lain, belalang sudah mati dan kering ketika entah bagaimana mendarat di kanvas basah, sang pelukis tidak sadar akan keberadaan belalang tersebut.

Lukisan pohon zaitun itu sendiri memiliki cerita lain yang tak kalah tenar. Van Gogh melukis lukisan pohon zaitun pada tahun 1889, setahun setelah ia berselisih dengan temannya Gauguin yang mungkin telah menyebabkan tindakan mutilasi diri yang paling terkenal dalam sejarah seni: memotong telinganya sendiri. Segera setelah itu, Van Gogh meninggalkan "Rumah Kuning" di Arles dan memasuki rumah sakit jiwa di Saint-Rémy-de-Provence. Kemungkinan dia melukis Pohon Zaitun saat berada di rumah sakit jiwa tersebut.

Kabar lain mengungkap kebiasaan seorang Van Gogh dengan menyebut bahwa dirinya terbiasa dengan masalah serangga. Dalam sebuah surat tahun 1885 kepada saudaranya, Theo, ia menulis tentang melukis di luar ruangan: “Saya pasti telah mengambil beberapa ratus lalat dan lebih banyak lagi dari 4 kanvas yang bisa anda lihat, belum lagi debu dan pasir ... ketika seseorang membawanya. melintasi semak-semak dan melewati pagar tanaman selama beberapa jam, akan terdapat cabang aneh atau dua goresan di atasnya."

Baca Juga: Ternyata, Ini Dia Asal-Usul Bendera!


Museum gallery.Source: kcur.com
Juliàn Zugazagoitia, direktur Nelson-Atkins museum.

Belalang mungkin tidak membantu dalam penelitian sejarah seni apa pun, tetapi telah menjadi titik pembicaraan bagi pengunjung museum, mengintip ke dalam lukisan untuk melihat apakah mereka dapat menemukan serangga mati dalam lukisan fenomenal tersebut.

Pihak museum mengatakan, penelitian yang lebih signifikan pada lukisan itu sedang berlangsung dengan analisis baru yang menunjukkan bahwa Van Gogh menggunakan jenis pigmen merah yang secara bertahap memudar seiring waktu. Hal itu menunjukkan lukisan terlihat sedikit berbeda hari ini daripada ketika selesai.

Baca Juga: Kucing Ternyata Cuma Pura-pura Cuek Ketika Namanya Dipanggil: Penelitian

Juliàn Zugazagoitia, direktur Nelson-Atkins, mengatakan Olive Trees adalah lukisan yang dicintai di museum dan studi ilmiah menambah kekayaannya. "Van Gogh bekerja di luar di elemen-elemen, dan kita tahu bahwa dia, seperti seniman plein air lainnya, berurusan dengan angin dan debu, rumput dan pohon, dan lalat dan belalang." sebut Julian.