Tsundoku: Hobi Beli Buku Tapi Tidak Pernah Dibaca, Ada yang Begitu?

March 18, 2019 11:30 AM

Buku (Foto: Pixabay)Buku (Foto: Pixabay)

Melihat teman kita yang Instagramnya mirip katalog perpustakan, pernah kah kamu ragu sejenak bahwa dia sempat membaca semua koleksinya itu? Koleksi bukunya yang terlalu seabrek dan cepat bertambah itu kok rasanya agak mustahil untuk bisa dibaca semua, ya? Jangan-jangan dia tsundoku?

Bila ada peribahasa "buku adalah jendela dunia" bagi mereka yang gemar membaca buku, jendela tersebut mungkin tidak pernah dibuka oleh para pelaku "tsundoku" akibat ketutupan tumpukan buku.

Dan kalau "kutu buku" adalah julukan bagi orang yang gemar membaca buku, maka "tsundoku" adalah istilah bahasa Jepang untuk mereka yang cuma hobi membeli buku baru namun dibiarkan menumpuk semata. Alhasil, kutu buku secara harfiah lah, serangga yang akan menikmatinya.

Mengutip laman Open Culture, istilah "tsundoku" berasal dari Jepang zaman Meiji (1868-1912). Istilah ini awalnya merupakan umpatan dari Bahsa Jepang, "tsunde-oku."  Kata ini merupakan gabungan dari "tsunde-oku" yang berarti "menumpuk dan meninggal", dan "dokusho" yang berarti "membaca buku." Seiring waktu kata "oku" berganti menjadi "doku."

Buku (Foto: Pixabay)Buku (Foto: Pixabay)

"Menurut penulis Mori Senzo, istilah 'tsundoku sensei' ditemukan pada naskah tahun 1879," kata Profesor Andrew Gerstle, pengajar naskah Jepang pra-moderen di Universitas London, Inggris, dikutip dari BBC.

"Kemungkinan satir, tentang seorang guru yang memiliki banyak buku namun tidak pernah membacanya," jelas dia.

Meski terdengar sebagai hinaan, menurut Gerstle ungkapan ini tidak mengandung stigma apapun di Jepang.

Bila di Jepang dinamakan "tsundoku", di dunia barat ada istilah yang menggambarkan hal agak serupa yaitu "bibliomania." Bibliomania adalah judul novel abad ke-19 karya penulis Inggris, Thomas Frognall Dibdin.

Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa biblomania berhasrat mengoleksi buku-buku edisi pertama atau edisi khusus. Bedanya, bila bibilomania hanya merupakan hobi atau obsesi yang menyasar buku tertentu, tsundoku cenderung acak dan tidak direncanakan.

Penyebab seseorang gemar menimbun buku pastinya perlu dipelajari lebih lanjut dari segal aspek. Bisa psikologis atau apa pun itu, namun ada sebuah kasus menarik terkait kebiasaan menimbun buku yang datang dari seorang lelaki tua di Amerika Serikat bernama Frank Rose. Sejak masih bekerja sebagai pegawai negeri, dia kerap membeli buku sebagai "modal" pensiunnya nanti.

"Saya membeli banyak sekali buku, sehingga saya dapat membacanya ketika saya pensiun," kata Rose kepada LA Times.

Tapi suatu hari di usia 85 tahun, dia justru kebingungan sendiri dengan koleksi bukunya yang sudah mencapai ribuan. Sebelum dia meninggal, Rose pun menyumbangkannya kepada perpustakaan umum di Sacramento.


"Kami senang dia tidak keburu meninggal untuk memberikan koleksinya kepada kami," kata seorang petugas perpustakaan, dikutip dari video Youtube koran lokal Sacramento Bee.

Ada yang suka koleksi buku? Pastikan ada tempatnya, ya! Atau biar tidak merepotkan, beli versi digitalnya saja berupa e-book. Kan sudah banyak zaman sekarang mulai dari Amazon Kindle hingga Google Play Book. Bagaimana menurut kalian?

(ruw)