Ternyata ini Alasan Kopi dan Bir Banyak Disukai

Sep 8, 2019 5:17 AM

Anda menganggap diri Anda sebagai seorang pecinta kopi, khususnya bagi yang gemar menikmatinya dengan cara minim gula dan hitam? Atau mungkin bir putih pucat pasi yang lebih Anda sukai?

Mungkin sebagian orang menganggap bahwa dirinya lebih menikmati kopi karena rasa pahitnya atau alkohol karena rasanya, namun itu, menurut hasil temuan di bawah ini, tidak ada kaitannya dengan kebiasaan orang mengonsumsi minuman-minuman tersebut.

Kenyataannya adalah mungkin kesukaan kita kepada kafein atau minuman beralkohol, atau minuman bergula, tidak terlalu dipengaruhi oleh rasa yang mereka miliki, namun lebih kepada apa yang kita rasakan setelah mengonsumsinya, menurut hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh ilmuwan genetik di Northwestern University yang dipublikasikan oleh Human Molecular Genetics.

Baca Juga: Pecinta Kopi? Inilah 5 Warung Kopi Legendaris Tertua di Indonesia!

Pada hasil kerja teranyarnya, Marilyn Cornelis, yang sebelumnya pernah mempublikasikan tentang kebiasaan mengonsumsi kopi secara genetis, menentukan tentang gen mana yang bertanggung jawab atas kebiasaan kita mengonsumsi minuman, menurutnya kepada AFP.


Kopi gemar dinikmatiSumber: sf.eater.com
Kopi berikan efek yang kuat 

Namun, ia dan timnya merasa terkejut karena kebiasaan orang untuk mengonsumsinya tidak didasarkan oleh variasi gen pencicip, namun lebih kepada gen yang berkaitan dengan minuman yang bisa memberikan efek terhadap otak.

"Gen yang mendasari pilihan kita berkaitan dengan komponen psikoaktif dari minuman ini," ucap Cornelis, "orang menyukai cara kopi dan alkohol memberikan perasaan kepada mereka. Itulah mengapa mereka meminumnya."

Penelitian dari American Heart Association dan National Institutes of Health-funded dilakukan dengan mengumpulkan kuesioner diet 24 jam dari 336 ribu orang keturunan Eropa dari UK Biobank.

Baca Juga: Selain Gula dan Susu, Ini Bahan Rahasia Agar Kopi Makin Lezat

Minuman dibagi menjadi grup yang terasa pahit dan grup lainnya untuk yang terasa manis. Minuman yang terasa pahit termasuk kopi dan teh, jus anggur, red wine dan minuman keras, sedangkan minuman manis termasuk segala minuman yang ditambahkan oleh berbagai pemanis gula, pemanis buatan dan jus yang selain anggur.

Para periset kemudian melakukan studi asosiasi lebar genom dari pola konsumsi yang kemudian divalidasi kepada tiga populasi di Amerika Serikat.


Minuman birSumber: avenuecalgary.com
Bir 

Menurut Cornelis kepada AFP, rasa mungkin merupakan suatu faktornamun itu adalah rasa yang diperoleh. Kopi, karena rasa pahitnya adalah sesuatu yang harus kita hindari dari segi evolusioner. Namun, kami mengonsumsinya karena menemukan rasa dengan efek yang diberikan oleh kafein.

Satu faktor yang tidak dipertimbangkan oleh para periset, menurutnya, adalah gula dan krim yang berpartisipasi dalam tambahan kepada kopi mereka untuk menyamarkan rasa pahitnya.

Anomali Gen Obesitas


Obesitas karena minumanSumber: medicalnewstoday.com
Obesitas

Cornelis juga menemukan bahwa orang yang memiliki varian khusus dalam gennya yang disebut FTO lebih menyukai minuman yang diberikan pemanis gula. Hasilnya mengejutkan sebab varian yang sama sebelumnya juga mengaitkan kepada risiko lebih rendah dari obesitas.

Menyebut temuannya tersebut "berlawanan dengan intuisi". Cornelis mengatakan, FTO adalah sesuatu yang misterius dalam gen dan kami tidak tahu pasti bagaimana itu berkaitan dengan obesitas. Itu kemungkinan memainkan peran dalam perilaku, yang akan berkaitan dengan manajemen berat badan.

Hasil temuan penelitian secara keseluruhan bisa membantu para periset untuk menemukan cara demi mengintervensi ketika pola konsumsi orang sudah tidak lagi menyehatkan.

Baca Juga: Apa Benar Meminum Bir dapat Memberi Manfaat Kesehatan?

Minuman dengan banyak gula berkaitan dengan obesitas dan berbagai kondisi yang berkaitan. Sementara itu, alkohol menyebabkan lebih dari 200 penyakit dan bertanggung jawab atas kematian enam persen dari populasi dunia.

"Itu memberi tahu apakah Anda tertarik dalam mengintervensi beberapa kebiasaan ini kemungkinan adalah efek psiko-stimulan yang diberikan, jadi itu bisa menjadi penghalang bagi orang untuk mengubah pola kebiasaan mereka," ucapnya.