Fosil Penguin Purba Ditemukan di Selandia Baru, Tingginya Setara Manusia!

Sep 26, 2019 12:15 PM

Penemuan fosil hewan purba hingga kini sering ditemukan di negara Selandia Baru. Negara yang berada di benua Australia itu sering dijadikan objek penelitian para ahli paleontologi dalam mencari sisa-sisa fosil dari makhluk hidup, lebih spesifiknya hewan purba. Di berbagai titik, para ahli kemudian menemukan beberapa fosil dari hewan-hewan purba yang menjadi cikal bakal dari hewan yang kita lihat saat ini.

Sebelumnya kita mendapat kabar ditemukan fosil tulang yang diidentifikasi adalah nenek moyang dari Burung Beo di Selandia Baru. Burung Beo purba yang kemudian dinamakan Heracles itu memiliki ukuran mencapai sepinggang orang dewasa. Selang kurang dari sebulan, para ahli kembali temukan fosil dari hewan purba lagi.


Penguin, hewan yang hanya ada di Antartika nyatanya pernah berevolusi menjadi raksasa pada jutaan tahun laluSource: Getty Images
Penguin

Namun, berbeda dengan sebelumnya, fosil yang ditemukan di lapisan fosil Waipara Greensand tersebut adalah seekor penguin purba yang setelah diteliti tulang belulangnya memiliki tinggi nyaris setara dengan manusia. Selain itu, fosil dari spesies penguin raksasa purba itu berbeda dari semua jenis penguin raksasa yang diketahui.

Baca Juga: Inilah Lokasi Ditemukannya Kembali Fosil Spesies Manusia Purba Terbaru

Kemudian fosil penguin itu diberi nama oleh ahli menjadi Crossvallia waiparensis dan masuk ke dalam ordo Sphenisciformes yang identik dengan penguin yang kita ketahui sekarang. Dengan tinggi 160 cm dan berat kira-kira sekitar 70-80 kilogram, fosil hewan tersebut diyakini menjadi salah satu yang terbesar.

"Fosil-fosil yang ditemukan di sana telah membuat pemahaman kita tentang evolusi penguin jauh lebih jelas," kata ahli burung Gerald Mayr dari Museum Sejarah Alam Senckenberg di Jerman seperti yang dikutip dari Science Alert.


Penguin raksasa Crossvalia yang kemungkinan miliki tinggi setara orang dewasaSource: Canterbury Museum
Penguin raksasa Crossvalia

Baca Juga: Sempat Punah 136 Ribu Tahun Lalu, Spesies Burung Ini Kembali Ditemukan Hidup di Afrika Timur

Setelah diteliti, penguin itu diperkirakan hidup antara 66 dan 56 juta tahun lalu. Kemudian penguin raksasa itu diyakini menjadi salah satu di antara penguin raksasa yang pernah ditemukan oleh para peneliti.

Sebelum ditemukannya Crossvalia, ada Kumimanu biceae yang termasuk penguin purba yang ditemukan tahun 2017 dengan berat 100 kilogram dan tingginya 1,65 meter. Namun, penguin Crossvalia masih kurang tinggi dan berat dibanding Palaeeudyptes klekowskii, salah satu fosil penguin paling besar yang pernah ditemukan pada 2014 dengan kira-kira tinggi sekitar 2 meter dan berat hingga 115 kilogram.


Gambaran penguin raksasa Palaeeudyptes klekowskii yang diperkirakan miliki tinggi sekitar 2 meterSource: pinterest.com
Penguin raksasa Palaeeudyptes klekowskii

Adanya penemuan fosil penguin raksasa di Selandia baru menunjukkan bukti geologis dan paleontologis antara Australia, Selandia Baru dan Antartika masih cukup kuat dengan vegetasi dan satwa liar yang serupa. Kesamaan antara dua penguin ini memperkuat pemahaman kita tentang bagaimana benua itu berhubungan puluhan juta tahun yang lalu.

"Ketika spesies Crossvallia masih hidup, Selandia Baru dan Antartika sangat berbeda dari hari ini - Antartika ditutupi oleh hutan dan keduanya memiliki iklim yang lebih hangat." kata Paul Scofield, kurator senior di Museum Canterbury.

Baca Juga: Jika Teori Evolusi Benar, Mengapa Tidak Semua Primata Berevolusi Jadi Manusia?

Ini juga menambah dukungan pada hipotesis bahwa penguin tumbuh sangat besar, sangat cepat dalam sejarah evolusi mereka, sebelum kemudian menyusut kembali. Salah satu faktor evolusi penguin sangat cepat kemungkinan karena hadirnya mamalia laut, seperti anjing laut, paus yang berlomba-lomba dalam mencari sumber makanan.

Tapi yang pasti, temuan fosil penguin raksasa di Selandia Baru menunjukkan bahwa penguin kecil yang saat ini kita biasa lihat di televisi sempat berevolusi menjadi raksasa dan miliki tinggi setara dengan kita manusia.