Telusuri Cerita Masa Lalu, Wilayah dengan Nama 'Kebon' Paling Hits di Jakarta

Jan 22, 2019 10:17 AM

Jakarta sebagai Ibukota negara tercinta memiliki banyak cerita beragam di dalamnya. Tak hanya tentang kemajuan kota yang pesat dan pertumbuhan penduduk yang luar biasa, kota metropolitan yang satu ini rupanya juga memiliki beberapa wilayah yang dengan nama yang unik. Sejumlah titik di Jakarta diberi nama sesuai dengan sejarah masa lampaunya. Kebon menjadi salah satu kata yang paling banyak diperuntukan bagi sejumalh wilayah di Jakarta.

C:\Users\Sharefaulia\Downloads\appai-803670-unsplash.jpg

Hampir setiap hari dilewati, kamu pasti belum tahu pasti kenapa nama-nama wilayah itu memakai kata Kebon. Mulai dari Kebon Jeruk, Kebon Jahe, Kebon Nanas, Kebon Sirih, Kebon Pala, Kebon Kacang, dan Kebon Bawang. Nama-nama kebon ini tersebar di berbagai wilayah Jakarta. 

Dari sekian banyak wilayah, ada 3 wilayah Kebon-kebonan di Jakarta yang paling hits dan lekat dengan ciri khasnya masing-masing. Pertama, Kebon Jeruk menjadi salah satu sentral bisnis yang paling terkenal. Sejak berdirinya salah satu stasiun televisi swasta RCTI, wilayah Kebon Jeruk seketika langsung banyak dikenal masyarakat.

Sebelumnya, Kebon jeruk memang ditinggali oleh etnis mayoritas Betawi yang membudidayakan berbagai macam tanaman jeruk, seperti jeruk bali, jeruk sankis, jeruk limau, jeruk purut. Tanaman jeruk tumbuh subur di wilayah ini sejak orang Belanda membawa bibitnya dari negeri China. Seperti yang sudah diketahui, jeruk merupakan buah yang memiliki makna baik bagi orang China. Kini, Kebon Jeruk menjadi pemukiman padat penduduk, mulai dari komplek perumahan dan sentra bisnis. 

Lain lagi dengan wilayah Kebon Jahe, daerah yang satu ini memang berdekatan dengan pusat belanja terbesar se-Asia, Tanah Abang. Tak sama dengan penampilannya saat ini, dahulu kala Kebon Jahe justru menyimpan cerita mengerikan. Masyarakat Kebon Jahe pada masa kolonial Belanda mengalami serangan penyakit mematikan yakni malaria dan diare. hampir sebagian besar masyarakat di sana jatuh sakit hingga meninggal dunia. 

Dalam bukunya Pramoedya Ananta Toer pernah berkisah, tentang kehidupan masyarakat Kebon Jahe. Diaktakan dalam bukunya Kebon Jahe menjadi salah satu lingkungan terjorok yang ada di sudut ibukota. Got dan saluran air warga dipenuhi kotoran sampah maupun kotoran manusia. Tak hanya warga pribumi, orang Belanda pun turut menjadi korban penyakit mematikan ini. 

Kemudian pemerintah memutuskan untuk membangun pemakaman di Kebon Jahe. Setiap harinya ada ratusan jenazah yang datang silih berganti untuk dimakamkan di sana. Namun sejak masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin, Pemakaman Kebon Jahe Kober resmi ditutup dan beralih fungsi menjadi Museum Wayang hingga saat ini. Sedangkan makam-makam dipindahkan ke beberapa TPU seperti Tanah Kusir, Menteng Pulo dan yang lainnya. 

Selanjutnya Kebon Sirih, wilayah yang satu ini memang terletak di jantung ibukota. Tanaman daun sirih tumbuh subur di daerah ini, oleh sebab itu, sejak dahulu warga sering memanfaatkannya sebagai pengobatan tradisional. Biasanya para perempuan tua mengunyah daun sirih bersama, pinang, kapur sirih dan gambir. Bibir dan gigi akan terlihat memerah, katanya sih mujarab banget untuk menguatkan gigi. Tanaman sirih juga kerap dijadikan pelengkapan saat lamaran orang Betawi. Makanya sampai saat ini nama Kebon sirih terus dipakai. 

Itulah ulasan tentang wilayah kebon-kebonan di Jakarta. Mulai sekarang kurangin deh ngeluhin kondisi jalanan yang ada di tiap sudut wilayah itu. Dengan begitu, kita bisa lebih menghargai goresan sejarah yang pernah terukir di dalamnya. Berdamailah dengan situasi ibukota, agar kamu tahu Jakarta tak melulu dikeluhkan tapi sering dirindukan.(ayi)