Kehilangan Ainun, Habibie Mengidap Penyakit Psikosomatik Malignant

Sep 12, 2019 3:51 AM

Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie meninggal dunia, Rabu (11/9). BJ Habibie mengembuskan napas terakhirnya di ruang CICU, Paviliun Kartika RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh putra ke-2nya.

"Saya harus menyampaikan ini, bahwa ayah saya, Presiden Ketiga RI, BJ Habibie meninggal dunia pukul 18.05 WIB," ujar putra ke dua BJ Habibie, Thareq Kemal Habibie. 

Ia mengungkapkan selama ini, ayahnya terlalu banyak beraktivitas, padahal usianya sekarang sudah tidak muda lagi. Ditambah, sang ayah sejak kecil memiliki jantung yang lemah. 

Baca Juga: Sebelum Meninggal Bacharuddin Jusuf Habibie Memanggil Seluruh Keluarga

"Setelah menua, jantungnya sangat lemah. Dengan aktivitas yang tinggi, tidak dikasih waktu istirahat, badannya memberontak," katanya. 

Pada Maret 2018, BJ Habibie juga sempat mengalami kebocoran klep jantung dan dirawat di Klinik Stanberg Muenchen, Jerman.

Psikosomatik Malignant


source: https://www.tribunnews.com Psikosomatik malignantsource: https://www.tribunnews.com
Psikosomatik malignant

Psikosomatik malignant sendiri adalah suatu kondisi gangguan psikologi yang disebabkan oleh rasa sakit kehilangan orang terkasih. Seperti diketahui, besarnya rasa cinta Habibie terhadap Ainun sudah menjadi rahasia umum. Tak ayal, kepergian Ainun membawa rasa perih tak terkira kepada BJ Habibie. Karena Psikosomatik malignant yang dideritanya, tim dokter bahkan sempat menyarankan Habibie untuk masuk rumah sakit jiwa demi menjalani perawatan khusus. 

Tak mau berlarut dalam kesedihan, BJ Habibie lebih memilih alternatif lain, yakni dengan cara menumpahkan segala kesedihannya lewat tulisan. Dalam kurun waktu 2,5 bulan, akhirnya Habibie mampu mengontrol perasaannya hingga bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Baca Juga: Habibie Dirawat karena Penyakit Mirip dengan Istrinya

Lemah Jantung


source: https://politik.rmol.id lemah jantungsource: https://politik.rmol.id
Lemah jantung

BJ Habibie pernah dirawat karena penyekit lemah jantung. Jantung lemah atau kardiomiopati merupakan kondisi di mana otot jantung melemah. Akibatnya jantung tidak dapat memompa atau berfungsi dengan baik hingga menyebabkan detak jantung tak beraturan, darah menumpuk di paru-paru, masalah katup jantung atau gagal jantung. 

Lemah jantung bisa terjadi pada usia berapapun. Namun, penyakit ini lebih sering terjadi pada orang dewasa dan lansia. Angka kasus penyakit ini tidak jauh berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Baca Juga: Inilah Riwayat Kesehatan BJ. Habibie Sebelum Meninggal Dunia

Penyakit Bronkitis 


source: http://pmrgahita.blogspot.com penyekit Tbsource: http://pmrgahita.blogspot.com
penyekit Tb

Pada awal November 2017, BJ Habibie terbaring di rumah sakit lantaran menderita penyakit bronkitis. Habibie menjalani perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto selama beberapa hari terhitung sejak Senin, 6 November 2017. Kendati demikian, penyakit bronkitis yang diderita BJ Habibie bukan karena penyakit TBC Tulang yang sempat diidapnya. 

Sebaliknya, Habibie dilaporkan mengalami batuk berlebih sehingga harus dirawat di rumah sakit. kepergian Ainun tahun 2010 silam menyisakan duka yang begitu dalam bagi BJ Habibie. Sepeninggalan sang istri, BJ Habibie sempat terpuruk hingga beberapa kali jatuh sakit. Beberapa hari setelah meninggalnya Ainun, Habibie bahkan harus menderita Psikosomatik malignant.

Kebocoran Jantung


source: https://lifestyle.okezone.com kebocoran jantungsource: https://lifestyle.okezone.com
Kebocoran jantung

Pada Maret 2018, Habibie sempat dirawat di salah satu rumah sakit di Munchen, Jerman, diduga karena ada kebocoran pada klep jantung yang pernah dipasang. Dikutip dari Mayo Clinic, kebocoran klep jantung merupakan kondisi ketika klep jantung tidak berfungsi dengan baik, tidak menutup dan tidak kembali seperti semula. 

Gangguan ini membuat darah sulit mengalir ke ruangan (bilik jantung) atau pembuluh darah seharusnya. Darah yang seharusnya mengalir ke pembuluh darah bisa berbalik kembali ke dalam jantung. Akibatnya, jumlah darah yang dialirkan ke tubuh akan berkurang.