Ilmuwan Temukan Cara Memanipulasi Kepedasan Cabai

May 11, 2019 9:30 AM

Pada sekitar tahun 2013 lalu, Guinness Book of World Records telah menetapkan Carolina Reaper, cabai yang bentuknya mirip ekor kalajengking, menjadi cabai terpedas di dunia. Cabai ini berhasil mengalahkan Bhut Jolokia alias 'cabai setan' yang berasal dari timur laut India. Namun ada kemungkinan title cabai terpedas milik Carolina Reaper ini tidak akan bertahan lama. Hal ini seiring temuan tim peneliti China yang diklaim bisa memanipulasi tingkat kepedasan cabai.

Di dunai ini ada berbagai macam jenis cabai. Beberapa diantaranya digolongkan sebagai cabai dengan tingkat kepedasan yang sangat tinggi seperti Trinidad Scorpion Moruga Blend, 7 Pod Douglah, atau Naga Viper. Tingkat kepedasan pada cabai sendiri diukur dengan sebuah satuan yang disebut SHU (Scoville heat units). Sebagai contoh, tingkat kepedasan cabai rawit yang umum dimakan di Indonesia adalah 50.000 – 100.000 SHU, jauh dibawah Bhut Jolokia yang mencapai 1.041.427 SHU.

Belum lama ini para ilmuwan berhasil mengurutkan genom (sequencing) tanaman cabai, dan menemukan gen yang bertanggung jawab atas tingkat kepedasannya. Penemuan genom baru tersebut, yang dimuat dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences, diyakini akan menjadi jalan bagi para peneliti dalam memanipulasi tingkat kepedasan cabai sehingga mampu membuat cabai terpedas di dunia

Baca Juga: Manfaat Cabai untuk Kesehatan

.

cabai terpedas

Source: shopify.com

Belum lama ini para ilmuwan berhasil mengurutkan genom (sequencing) tanaman cabai, dan menemukan gen yang bertanggung jawab atas tingkat kepedasannya.

Baca Juga: Kenapa Banyak Orang Ketagihan Makan Pedas?

"Temuan ini akan menyediakan basis pengembangan lebih lanjut pembuatan molekuler dan memicu riset terkait sifat-sifat agronomi cabai, juga membantu petani menciptakan jenis baru dengan teknik biologi molekuler," kata salah satu penulis studi, Cheng Qin, peneliti dari Sichuan Agricultural University di China, seperti dikutip dari situs sains LiveScience.

Dalam upayanya mempelajari cabai, Qin dan timnya mengurutkan genom cabai yang dibudidayakan di institusi mereka, yang disebut Zunla-1 dan sejumlah cabai liar lainnya. Mereka mengamati genom dari 18 tanaman cabai yang dibudidayakan, guna memperoleh perbandingan antara varietas liar dan budidaya. Hasilnya tim ini berhasil mengidentifikasi komponen genetik yang bertanggung jawab terhadap rasa pedas pada cabai.

Gen kunci ini ternyata bisa diduplikasi dalam jumlah berbeda untuk merubah kandungan capsaicin dalam cabai menjadi bertambah atau berkurang. Berdasarkan hasil temuan ini para ilmuwan menyarankan dua cara baru pengembangbiakkan cabai yang pedas. Metode pertama yaitu kawin silang dengan cabai yang punya banyak gen pedas. "Atau dengan rekayasa genetika agar cabai mengandung lebih banyak gen penghasil pedas," kata Qin.

Baca Juiga: Alasan Ada Orang yang Tak Suka Makanan Pedas