Sejarah Panjang Mengonsumsi Daging Kuda di Ranah Eropa

Oct 16, 2019 10:00 AM

Orang-orang di sebagian besar negara mungkin tidak mengonsumsi daging kuda. Hal itu dianggap tabu dalam beberapa budaya, tapi saat ini tidak untuk Italia, Prancis dan beberapa negara di Eropa.

Di beberapa bagian dunia, seekor kuda lebih dari sekadar hewan peliharaan. Binatang satu ini hampir dianggap kerabat dalam beberapa hal. Kuda, sebagian besar adalah binatang yang memiliki kekuatan dan keanggunan dan sesuatu untuk diidealkan, tidak dimasak dan dimakan.

Baca Juga: Daging Sirloin dan Tenderloin Steak, Apa Bedanya Ya?

Di Italia, daging kuda dianggap daging yang sehat dan bergizi yang berada di antara eksistensi daging sapi dan daging rusa. Di sana, daging kuda diberikan kepada orang muda dan orang yang baru pulih dari sakitnya. Mereka menganggap daging kuda memiliki banyak manfaat lantaran tidak berlemak, mengandung banyak zat besi dan proteinnya yang dapat meningkatkan stamina yang mengonsumsinya.

Untuk sekedar info, Italia dan Prancis ada dua negara Eropa yang mengonsumsi daging kuda. Berbeda dengan Inggris, Irlandia dan negara Eropa bagian sana yang enggan mengonsumsinya. Keengganan memakan daging kuda justru dianggap aneh bagi bangsa Eropa. Pasalnya, di zaman dulu kala manusia selalu berburu kuda liar dan memakan dagingnya. Hal itu dikarenakan daging kuda menjadi sumber protein yang sangat penting bagi pemburu-pengumpul.


daging kuda.Source: telegraph
Panganan daging kuda

Secara luas, daging kuda dimakan sepanjang masa revolusi pertanian di Eropa. Protein dari dagingnya merupakan kandungan langka dan bernilai. Sampai pada Abad Pertengahan di Eropa dan khususnya di Jerman, praktik ini berlanjut di mana daging kuda dikaitkan dengan praktik keagamaan.

Pada tahun 732 sebelum Masehi, sesuatu yang tidak biasa terjadi di Eropa setelah Paus Paulus (saat itu) mengeluarkan fatwa haram memakan daging kuda. Saat itu pula banyak agama yang mengatur keabsahan makanan yang boleh atau tidak untuk dikonsumsi. Untuk kali pertama dalam sejarah keagamaan, kuda dilarang untuk dikonsumsi.

Kabarnya, ancaman dari negara Timur-Tengah juga menjadi penyebab munculnya fatwa haram tersebut. Pasalnya, negara-negara TimTeng lebih banyak menggunakan kuda untuk berperang, bukan untuk dikonsumsi. Mereka berpikir untuk terus mengembang-biakan kuda untuk menjadi kendaraan perang bagi para tentaranya.

Baca Juga: Unik, Restoran Cepat Saji ini Rilis Menu Ayam Goreng Tanpa Daging Ayam


Daging kuda.Source: thetakeout.com
Penyajian modern daging kuda 

Larangan itu terbukti mampu menurunkan konsumsi daging kuda di Eropa selama ratusan tahun, meski beberapa warga lokal tetap mempertahankan tradisi untuk memakan daging kuda. Namun situasi berubah kala pecahnya revolusi Prancis, jatuhnya aristokrasi dan kebangkitan tatanan sosial baru. Kuda-kuda yang dimiliki orang kaya saat itu disembelih dan dikonsumsi untuk massa yang kelaparan.

Saat ini sendiri daging kuda masih menjadi menu favorit di beberapa daerah di Italia, seperti Venesia, Sardinia, Padua, dan Sisilia. Padua, menjadi provinsi lain yang menghargai daging kuda untuk dijadikan sebuah menu makan malam. Kota Legnaro bahkan memiliki acara festival tahunan bernama Festa del Cavallo di mana semua kegiatan mulai dari lomba balap, rias sampai memasak semua memiliki unsur kuda.

Baca Juga: Makan Daging Kambing Ternyata Tidak Selamanya Bikin Darah Tinggi


Daging kuda.Source: Legnanonews
Festival kuda di Italia

Sebagai orang asing yang tinggal di Italia, menunggang kuda hanyalah salah satu dari perbedaan budaya yang akhirnya Anda akan terbiasa dengan hal itu. Jadi jika berpergian ke negara-negara Inggris dan sekitarnya, Anda tidak akan menemukan menu daging kuda di restoran yang dikunjungi. Namun, menu tersebut dapat Anda temui di negara-negara, seperti Italia, Prancis, Amerika Serikat, China, dan mungkin termasuk Indonesia.

Gimana? Kalian pernah coba daging kuda? Atau justru rajin mengonsumsi si Kuda Jingkrak?