Ratusan Mahasiswa Papua Kembali ke Daerah Asal

Sep 11, 2019 3:30 AM

Ratusan mahasiswa Provinsi Papua dan Papua Barat telah meninggalkan berbagai kota tempat mereka mengenyam pendidikan untuk kembali ke daerah asal, sebulan setelah peristiwa di depan asrama mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur. 

Asrama Papua di Kota Bandung berada di jalan besar, di sekitar perumahan elite dan perkantoran. Bangunan asrama milik Pemda Papua ini beberapa bagian atapnya sudah terlihat lapuk dan dinding temboknya tampak terkelupas di sana-sini. Pada Selasa (10/09), situasi asrama tampak sepi. Tidak tampak ada mobil polisi yang terparkir di sekitar asrama.

Baca Juga: Fakta-Fakta Dalang Kerusuhan di Papua Menurut Polisi

Kosongkan Pulau Jawa

;

Source : https://www.bbc.com  Mahasiswa Papua kosongkan Pulau JawaSource: bbc.com  
Mahasiswa Papua kosongkan Pulau Jawa

Weak Kosay, anggota Divisi Pendidikan Ikatan Mahasiswa Setanah Papua (IMASEPA), mengatakan sebagian mahasiswa Papua di Bandung dan sekitarnya telah pulang ke Papua. 

"Kami semua mau kosongkan Pulau Jawa karena Pulau Jawa anggap kami bukan seperti manusia lagi. Perlakukan hal-hal yang tidak seperti manusia lakukan. Makanya kami beranggapan hidup di atas tanah kami lebih nyaman dibandingkan hidup di daerah orang lain," kata Weak yang mengaku dia dan rekan-rekannya tidak tahan dengan perlakuan aparat, khususnya setelah kejadian di Surabaya. 

Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan, berdasarkan informasi dari berbagai pihak, ada lebih dari 300 mahasiswa Papua yang tengah studi di berbagai kota memutuskan pulang kampung. Mengutip Antara, 200 di antaranya sedang belajar di Manado, sisanya di beberapa kota di Pulau Jawa. Menurutnya, para mahasiswa bersikeras pulang dengan kemauan sendiri. Ia pun bingung dibuatnya. Hal serupa diungkapkan Menkopolhukam Wiranto. 

Baca Juga: Ada di Indonesia, 4 Rumah Unik ini Mempesona

"Tidak ada masyarakat yang akan mengganggu mereka bahkan menempatkan mereka sebagai orang lain, sama sekali tidak. [Mereka] akan dijamin pemerintah setempat, mereka belajar untuk melindungi, merawat dan memperlakukan mereka sebagai keluarga," katanya di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (9/9). 

Tapi pernyataan Wiranto tidak berlaku di Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Nomor 10, Surabaya, Jawa Timur. Asrama yang pada 16 Agustus lalu sempat dikepung aparat dan ormas karena para penghuninya dituduh merusak bendera merah putih itu kedatangan 'tamu' tak diundang: empat ular, salah satunya piton, yang beratnya 15an kilogram. 

Empat orang pengendara dua motor matic, Senin (9/9) subuh, melempari penghuni asrama dengan ular yang disimpan di karung tidak tertutup. Sebelumya mereka sempat dilempari cat. Lalu poster yang mereka bikin, bertuliskan "Referendum is Solution", dicopot. Semuanya oleh orang tidak dikenal.


Source : https://regional.kompas.com  Gubernur Papua Lukas EnembeSource: regional.kompas.com  
Gubernur Papua Lukas Enembe 

Akan tetapi, Gubernur Papua, Lukas Enembe, mempertanyakan kepulangan ratusan mahasiswa Papua. Kini, Lukas mengaku pusing. Sementara itu, Derek Erari, Wakil Rektor Universitas Papua di Manokwari, mengatakan pihaknya sangat bergantung dengan keputusan menteri mengenai penerimaan mahasiswa Papua dari Jawa dan Sulawesi. 

Menurutnya, Unipa sudah menerima 2.000 mahasiswa pada tahun ajaran baru yang disebut "sudah maksimal". Hal senada diutarakan Rektor Universitas Cenderawasih, Apolo Safanpo. Menurut Apolo, hal tersebut disebabkan karena daya tampung Uncen sendiri terbatas. Bahkan untuk saat ini saja sudah dipaksakan agar dapat menerima 6.000 mahasiswa dari daya tampung yang hanya 4.000 mahasiswa. 

Untuk itu, dia mengimbau agar mahasiswa Papua yang kuliah di berbagai daerah untuk tetap menyelesaikan perkuliahan di kampus masing-masing.

Baca Juga: Benarkah Indonesia Dijajah Selama 350 Tahun Oleh Belanda? Ini Faktanya!


Source : https://www.liputan6.com  Kemensos sipkan dana 1 miliar untuk korban kerusuhan papuaSource: liputan6.com  
Kemensos sipkan dana 1 miliar 

September 2019 Pemerintah menggelontorkan dana simultan hingga Rp1 miliar untuk membantu pemulihan warga terdampak konflik Papua. Kementerian Sosial akan menggelontorkan dana simultan untuk para korban terdampak konflik di Papua. Dana yang disiapkan hingga Rp1 miliar untuk dana simultan tahap pertama. 

"Ada kelompok masyarakat yang menjadi korban kehilangan tempat tinggal atau sumber mata pencariannya dirusak inilah yang diberikan dana stimulan," kata Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos Harry Hikmat pada kegiatan bimbingan teknis keserasian sosial di Jakarta, Rabu malam (5/9) sebagaimana dilansir dari Antara

Harry menerangkan, dana stimulan tersebut diberikan agar usaha atau sumber mata pencarian para korban dengan modal menengah ke bawah bisa tumbuh kembali setelah dibantu. Setiap pelaku usaha akan diberikan dana stimulan oleh pemerintah sebesar Rp5 juta, ujarnya. Selain itu, pemerintah juga menganggarkan untuk ahli waris korban jiwa masing-masing sebesar Rp15 juta dan biaya renovasi rumah maksimal Rp25 juta.