Mungkinkah Transplantasi Otak dan Kepala Bisakah Dilakukan? Ini Penjelasannya!

Apr 8, 2019 8:00 AM


Ilustrasi otak (Sumber foto: Pixabay)Source: Pixabay
Ilustrasi otak.

Ilmu kedokteran sudah sedemikian majunya. Dengan transplantasi organ tubuh, nyawa bisa diselamatkan dan hidup seseorang bisa jauh lebih baik. Menemukan pendonor organ tubuh pun bukan hal mustahil.


Disarikan dari The Infographics Show, dalam videonya yang berjudul Why We Can't Transplant Brains , sejarah mencatat, operasi transplantasi organ pertama kali dilakukan pada Desember 1954 di sebuah rumah sakit di Boston, Amerika Serikat (AS). Saat itu pria bernama Ronald Herrick mendonorkan ginjalnya untuk saudara kembar dia bernama Richard Herrick.

Puluhan tahun berlalu, kini transplantasi jantung, ginjal, pankreas, hati hingga kornea mata bisa dilakukan. Tidak hanya organ, jaringan manusia (seperti otot dan saraf) transplantasi jaringan manusia juga bisa. Bahkan, para ilmuwan juga sedang berusaha mencetak (print) 3D jaringan manusia. Tapi mungkin ada satu yang masih membuat orang penasaran: transplantasi otak.

Baca Juga: Buang Angin Berlebihan Bisa Jadi Tanda Bahaya, Kok Bisa?

Berita soal “keberhasilan” transplantasi otak sendiri pernah menyeruak di tahun 2015. Dokter bedah saraf Italia Sergio Canavero mengklaim bahwa dia telah sukses melakukan transplantasi kepala. Meski begitu kemudian klaimnya hanya dianggap penuh sensasi. Belakangan, hal ini juga hanya dianggap sebagai fake news. Pasalnya, dia melakukan transplantasi terhadap monyet dan mayat.  

Tubuh manusia tidak bisa sekedar plug n play. Profesor bedah saraf dari Universitas Yale, Amerika Serikat, mengatakan bahwa transplantasi otak mungkin-mungkin saja dilakukan di masa depan. Tapi saat ini, masih jauh dari harapan. Pasalnya, terlalu sulit menyambung banyaknya serabut saraf dari otak yang akan ditransplantasikan ke saraf tulang belakang.

Sedangkan seorang ilmuwan lain berpendapat bahwa mentransplantasi otak beserta kepalanya secara utuh secara teori lebih mungkin untuk dilakukan.


Baca Juga: Meski Bagus Untuk Obat, Ini Alasan Mengapa Ganja Dilarang?

Namun singkat kata, saat ini bila transplantasi otak atau kepala dilakukan, kemungkinan yang akan terjadi meskipun secara biologis hidup, subyek operasi tersebut tidak bisa benar-benar hidup atau sadar pasca operasi.

Contoh kasusnya seperti yang dilakukan Sergio Canavero. Dia pernah melakukan transplantasi kepala terhadap monyet. Meski “sukses”, monyet tersebut tidak sadar. Sergio Canavero pun tidak menyambung serabut saraf dari otak ke serabut saraf tulang belakang monyet. Monyet tadi hanya bertahan “hidup” secara biologis selama 20 jam. Seandainya dia mampu bertahan sekalipun, seumur hidupnya dia akan mengalami kelumpuhan.

Sergio Canavero bukan satu-satunya yang berambisi melakukan transplantasi kepala atau otak. Ilmuwan Rusia bernama Vladimir Demikhov pada tahun 1950-an adalah salah satunya. Dia "menciptakan" anjing "Frankenstein" berkepala dua ketika mentransplantasikan kepala seekor anjing ke anjing lainnya. Seorang ilmuwan Amerika Robert White juga pernah mentransplantasi kepala monyet. Monyet tadi akhirnya mati setelah beberapa hari. Sebelumnya dia lumpuh akibat operasi, akibat saraf tulang belakangnya rusak.

Baca Juga: Ternyata Beberapa Hal Ini Dapat Menyebabkan Kita Menjadi Insomnia

Jadi apakah transplantasi otak atau kepala mungkin dilakukan? Yang jelas saat ini tidak. Mengerikan juga ya kalau bisa? Kayak Frankenstein.

(ruwk)