Waspada, Ini Dampak Negatif Dari Konsumsi Bubble Tea Terlalu Banyak

Jul 4, 2019 3:00 AM

Pada tahun 2019 ini, bubble tea merupakan salah satu jenis minuman yang mulai populer di kalangan masyarakat Indonesia. Selain memiliki varian rasa yang berbeda-beda dan lezat, bubble yang bertekstur kenyal seperti jeli membuat banyak orang begitu menyukai jenis minuman ini.

Tidak heran, pebisnis food and beverages (F&B) mulai gencar menjual bubble tea ciptaan mereka masing-masing. Meskipun berasal dari penjual yang berbeda, namun satu rasa yang menjadi ciri khas dari bubble tea adalah manis dan gurih. Di balik rasanya yang begitu menggiurkan, rupanya bubble tea juga menyimpan bahaya untuk kesehatan tubuh. Apa saja bahayanya?


1. Diabetes


diabetesSource : healthline.com
Ilustrasi Penyakit Diabetes.

Dibalik rasanya yang lezat, tentu kadar gula dalam minuman bubble tea juga sangatlah tinggi. Kandungan gula tersebut datang dari teh, susu, maupun bahan campuran lain yang juga mengandung gula dalam takaran cukup banyak. Menurut penelitian yang pernah dilakukan, segelas bubble tea rata-rata memiliki kadar gula sebesar 34 gram. Hal ini sudah melebihi setengah dari batas normal untuk tubuh manusia per harinya (batas normal menurut versi WHO adalah 50 gram per hari).

Baca Juga: Dampak Mengerikan Dibalik Segarnya Minuman Soda


2. Kolesterol


kolesterolSource : rsi.co.id
Ilustrasi Penyakit Kolesterol

Meski bersifat minuman dingin, bukan berarti bubble tea tidak bisa menyebabkan kolesterol pada tubuh. Bubble tea sendiri diklaim memiliki kandungan lemak trans yang cukup banyak pada setiap gelas yang disajikannya. Lemak trans sendiri adalah jenis lemak yang digunakan untuk membuat citarasa makanan ataupun minuman menjadi lebih gurih dari biasanya. Namun, lemak ini juga dapat menyebabkan kolesterol bagi tubuh yang dapat menyebabkan komplikasi hingga penyakit-penyakit akut lainnya.


3. Obesitas


obesitasindopos.co.id
Ilustrasi Penyakit Obesitas

Seperti yang diketahui, perbedaan bubble tea tentu terdapat pada bagian bubblenya yang bertekstur kenyal layaknya jeli. Bubble ini sendiri terbuat dari campuran tepung tapioka yang memiliki kadar karbohidrat tinggi di dalamnya. Kadar karbohidrat tinggi dapat menyebabkan penumpukan kalori berlebih pada tubuh. Menurut penelitian, segelas bubble tea memiliki kisaran rata-rata sebesar 160 kalori. Angka tersebut sudah tergolong tinggi untuk salah satu jenis minuman yang cepat habis. Untuk membakar jumlah kalori tersebut, kita membutuhkan kegiatan olahraga dengan intensitas normal dengan durasi setidaknya 20-30 menit.

Baca Juga: Kenapa Thai Tea Berwarna Oranye? Ini Sebabnya!


4. Sulit Buang Air Besar (BAB)


sembelitSource : honestdocs.id
Ilustrasi Penyakit Sembelit

Selain mengandung kadar karbohidrat yang tinggi, tepung tapioka yang menjadi bahan utama dalam pembuatan bubble umumnya juga akan sulit dicerna dalam tubuh. Hal ini akan menyebabkan penumpukan pada bagian usus sehingga menyebabkan gejala-gejala penyakit seperti sembelit atau sulit buang air besar. Untuk menghindari gejala ini, ada baiknya kita juga menjaga konsumsi bubble tea agar tidak terlalu sering setiap harinya.


5. Beresiko Memicu Kanker


kankerSource : knack.be
Ilustrasi Penyakit Kanker

Dampak negatif terakhir sekaligus yang paling mengerikan adalah resiko kanker karena konsumsi bubble tea terlalu banyak. Meski peluangnya tidak sebesar rokok, bubble tea dianggap mempunyai zat yang dapat memicu gejala kanker dalam tubuh. Salah satu penelitian yang dilakukan di University Hospital Aachen Jerman, ditemukan jejak bifenil aspoliklorinasi atau PCB dalam sampel gelembung tapioka. Zat-zat ini adalah salah satu pemicu penyakit yang cuku kronis seperti penurunan sistem imun tubuh, penurunan kualitas sistem reproduksi, hingga resiko penyakit kanker itu sendiri.

Baca Juga: Menurut Studi, Susu Justru Tidak Berpengaruh Banyak Untuk Tulang Manusia

Nah, jadi itu adalah dampak-dampak negatif yang dapat disebabkan oleh konsumsi bubble tea terlalu banyak. Secara netral, bubble tea adalah minuman yang masih layak dikonsumsi tanpa harus dilarang. Akan tetapi, batasi frekuensi konsumsinya agar tidak terlalu sering setiap hari. Imbangi pula dengan makan makanan bergizi dan olahraga agar tubuh semakin sehat.