Jika Teori Evolusi Benar, Mengapa Tidak Semua Primata Berevolusi Jadi Manusia?

July 29, 2019 4:00 AM

Konon katanya, manusia itu adalah hasil evolusi dari primata. Mungkin ada yang ingin percaya, mungkin juga tidak. Lalu jika manusia adalah hasil evolusi dari primata, mengapa semua spesies primata tidak seluruhnya berevolusi menjadi manusia?

Pertanyaan tersebut mungkin agak menggelitik rasa penasaran kita tentang teori evolusi yang biasa didengungkan oleh para pemerhati sains. Apalagi ditambah dengan adanya anggapan jika "sepupu" terdekat manusia yakni simpanse modern telah ada di Bumi 700.000 tahun lebih lama daripada manusia modern (Homo sapiens).


Evolusi manusiaSource: Shutterstock
Hewan primata yang konon katanya memiliki sedikit kemiripan dengan manusia namun tidak berevolusi
Kemudian pertanyaan tersebut dijawab oleh para ahli. Salah satunya adalah jawaban dari Briana Pobiner, ahli paleoantropologi di Smithsonian Insitute di Washington DC yang menyatakan bahwa alasan spesies primata tidak berevolusi menjadi manusia karena mereka baik-baik saja. Dengan masih eksisnya gorila gunung di Uganda, lemur di Madagaskar atau simpanse dan spesies primata lain, semuanya menunjukkan bahwa setidaknya untuk saat ini, mereka masih bisa hidup di habitat alami mereka.

Baca Juga: Masih Gara-gara Gadget! Bentuk Manusia di Tahun 2100 Akan Sangat Mengerikan?

Pendapat lainnya dikemukakan oleh Lynne Isbell, seorang profesor antropologi di University of California, Davis yang menyatakan bahwa evolusi itu bukan sekedar progresi dan lebih cenderung menjelaskan tentang seberapa baik suatu organisme mampu hidup di lingkungannya.

“ Evolusi bukanlah progresi. (Evolusi) adalah sebaik apa suatu organisme hidup dalam lingkungannya saat ini,” ujar Lynne Isbell seperti yang dikutip dari Live Science.

Di mata para ilmuwan yang mempelajari evolusi, manusia tidak "lebih berevolusi" daripada primata lain, dan kita tentu saja belum memenangkan apa yang disebut dengan permainan evolusi. Sementara kemampuan beradaptasi yang ekstrem membuat manusia memanipulasi lingkungan untuk memenuhi kebutuhan kita, kemampuan itu tidak cukup untuk menempatkan manusia di puncak tangga evolusi.

Bahkan semut saja lebih sukses dalam berevolusi ketimbang manusia, menurut pendapat tambahan dari Lynne Isbel l. Ia menuturkan jauh lebih banyak semut di dunia daripada manusia dan mereka mampu beradaptasi dengan baik di tempat atau habitat mereka tinggal.

Selain itu Brianna Pobiner berpendapat jika kita hanya perlu bisa bertahan hidup dan bereproduksi untuk menjadi pemenang dalam perlombaan evolusi dan tak perlu menjadi yang terkuat dan tercepat. Dan buktinya ada pada nenek moyang kita sendiri.

Baca Juga: Penemuan yang Membuktikan Bahwa Telepon Sudah Ada Sejak 1200 Tahun yang Lalu!


Evolusi manusiaSource: bgr.com
Manusia purba yang diyakini telah berevolusi dan berpisah dengan spesies simpanse kuno.

"Kami memiliki gagasan bahwa yang paling mampu bertahan adalah yang terkuat atau tercepat, tetapi yang harus Anda lakukan untuk memenangkan permainan evolusi adalah bertahan hidup dan bereproduksi." kata Pobiner.

Seperti yang dikutip dari Sains Kompas, para ahli meyakini bahwa manusia pertama mulai memisahkan diri dari simpanse ketika mereka menghabiskan lebih banyak waktu di tanah sekitar 6-7 juta tahun lalu. Nenek moyang yang cukup pandai dalam memanjat pohon dan berjalan mungkin sedang mencari makanan sambil mengeksplorasi habitat baru.

Sekitar 3 juta tahun lalu, mereka kemudian mulai beradaptasi. Kaki mereka menjadi lebih panjang dan jari-jari kaki mereka mulai menghadap ke depan agar mereka bisa lebih sering berjalan daripada memanjat.

Baca Juga: Inilah Lokasi Ditemukannya Kembali Fosil Spesies Manusia Purba Terbaru

“Perbedaan seleksi habitat mungkin adalah perubahan perilaku yang paling kentara. Untuk memulai bipedalisme, nenek moyang kita harus pergi ke habitat yang tidak memiliki kanopi tertutup. Mereka harus lebih banyak bergerak di tanah, di tempat yang pohonnya berjauhan satu sama lain,” ujar Isbell.

Mengenai primata lain, baik itu simpanse atau bonobo, Briana Pobiner berkata bahwa mereka akan tetap menjadi simpanse atau bonobo selama kita tidak merusak habitat mereka. Dengan kata lain, hingga saat ini belum ada spesies primata yang mengalami evolusi dan tidak akan mengalami evolusi jika habitatnya tetap ada.