Mengapa Selalu Ada ‘Trouble Maker’ Saat Liburan?

Jan 18, 2019 8:08 AM

Memasuki musim liburan, jalan-jalan menjadi agenda wajib yang harus dilakukan. Sebagai traveler sejati tentu kita sudah mempersiapkan segala kebutuhan liburan. Mulai dari tujuan, transportasi, penginapan, budget, sampai siapa aja nih yang harus diajak, teman se-genk tentu enggak boleh ketinggalan.

Dalam setiap perjalanan selalu saja ada ceritanya, entah yang bikin senang, kesel, senang lagi sampai akhirnya gondok. Yap, istilah trouble maker memang tak pernah luput dari cerita para pelancong. Trouble maker sendiri merupakan istilah yang diperuntukan bagi seseorang yang kerap melakukan tindakan kurang menyenangkan, pembuat masalah alias suka ada-ada saja.

Sebelum berangkat tentu ada kata sepakat untuk melancarkan perjalanan. Namun, si trouble maker kerap mengingkari dan justru buat onar. Macam-macam kelakukannya, misalnya sulit mencapai mufakat dalam setiap keputusan. Tipe-tipenya lebih lekat dengan suka mengeluh, egois, keras kepala, pemarah dan pelit. Biasanya trouble maker memiliki pemikiran dan keputusan sendiri sehingga bertentangan dengan teman seperjalanan yang lain.

Saat traveling ke pantai atau ke gunung, biasanya trouble maker akan dimulai dengan mengeluh dengan kondisi cuaca yang panas, terlalu dingin, berkabut dan lainnya. Haloooww.., namanya juga pantai pasti panas dan angin kencang. Trouble maker juga kerap menyusahkan orang lain dengan barang bawaannya. Sekali, dua kali, teman-teman mungkin akan memaklumi namun kalau terlalu sering juga nyebelin yah.

Tak sampai disitu, trouble maker kian gencar saat waktu makan tiba. Mulai dari tempat makan sampai menu disajikan akan terlihat salah dimatanya. Pilihan menu yang kurang beragam, cita rasa yang kurang otentik, serta harga yang terlalu tinggi. Kalau sudah begini tentu kamu dan teman-teman cukup mengelus dada saja, demi liburan tetap menyenangkan.

Lanjut hari berikutnya, trouble maker masih saja mementingkan dirinya sendiri, dia kerap mengumumkan peraturan yang sebenarnya lebih banyak menguntungkan dirinya sendiri ketimbang tim. Kalau enggak dituruti, biasanya trouble maker akan memasang muka kusut, cemberut, pokoknya ngambek sepanjang perjalanan. Setiap ditanya, jawabnya 'iya, bebas, terserah', sungguh sikap netral penuh kepalsuan.

Berkat si trouble maker, bukan cuma satu atau dua orang saja yang ikut tersulut kekacauan yang ada. Semua tim yang ikut dalam perjalanan juga menjadi kesal, emosian alis ikutan 'ngegas kalau diajak ngomong. Terus ngapain yah, diajak jalan-jalan kalau orangnya nyeblin banget kayak begini?

Sebenarnya, troubel maker tidak serta merta dari kepribadiannya. Sulitnya berkomunikasi antara satu dengan yang lain terkadang menjadi akar terciptanya trouble maker. Selisih paham terkadang menjadi biang keladi atas keonaran hingga munculah trouble maker.

Satu-satunya cara untuk menghilangkan trouble maker seseorang yakni pahami peran masing-masing orang dalam tim perjalanan. Kenali satu demi satu maksud dan tujuannya. Sebenarnya trouble maker hanya menginginkan pengakuan, misalnya dihargai setiap pendapat maupun ide dalam perjalanan. Dan yang paling penting cukup satu yang jadi trouble maker, kamu enggak perlu turut jadi trouble maker berikutnya.(ayi)