Ini Sebab Sebagian Orang Selalu Digigit Nyamuk Tapi yang Lainnya Tidak

Oct 23, 2019 9:09 AM

Momen saat kulit tergigit nyamuk memang cukup menyebalkan dalam hidup sebagian besar manusia di dunia. Karena gigitan dari serangga tersebut, tak jarang manusia harus menggaruk kulit di bagian tubuh yang terkena gigitan. Namun, sebagian lainnya justru ada yang tidak digigit nyamuk di saat orang di sampingnya harus sibuk menggaruk badan mereka.

Uniknya, yang dialami oleh sebagian orang yang tak terkena gigitan nyamuk itu bukan karena efek dari obat nyamuk atau apapun namanya. Ternyata fenomena tersebut bisa dipengaruhi oleh beberapa hal dari hembusan karbon dioksida yang dikeluarkan manusia hingga adanya reaksi dari mikroba yang muncul dari kelenjar keringat.

Baca Juga: Benarkah Orang Sering Digigit Nyamuk Karena Darah Manis?

Seperti yang dilansir dari Live Science, seekor nyamuk mengandalkan kadar karbon dioksida yang dihembuskan dari tubuh manusia untuk mencari mangsa untuk dijadikan inangnya. Hal itu dilengkapi dengan fakta bahwa karbon dioksida yang dikeluarkan manusia ketika bernafas tidak langsung menyatu dengan udara di sekitar dan akan berbentuk semacam gumpalan tak terlihat yang mana nyamuk mengikutinya.

"Nyamuk mulai menyesuaikan diri dengan karbon dioksida dan terus terbang melawan angin saat mereka merasakan konsentrasi yang lebih tinggi daripada yang terkandung di udara ambien normal," kata Joop van Loon, ahli entomologi di Wagenigen University, Belanda.


nyamukSource: medicalnnewstoday.com
Nyamuk

Menurut hasil penelitian juga, karbon dioksida yang dilepaskan manusia sasarannya bisa dideteksi oleh nyamuk pada jarak 50 meter. Di jarak satu meter, nyamuk pun mulai mendeteksi bagian-bagian lebih detail tentang tubuh sasarannya, yaitu dari suhu kulit, keberadaan uap air hingga warna kulit.

Namun variabel yang membuat manusia satu sama lain beda "perlakuan" ketika didatangi oleh nyamuk adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroba yang hidup di kulit manusia itu sendiri. Bakteri mikroba itu pun dikeluarkan manusia melalui kelenjar keringat.

Baca Juga: Demam Berdarah: Perlukah Kita Bunuh Semua Nyamuk di Dunia?

"Bakteri mengubah sekresi kelenjar keringat kita menjadi senyawa volatil yang dibawa melalui udara ke sistem penciuman di kepala nyamuk," tambah Joop van Loon.

Namun ternyata rangkaian kimia yang dikeluarkan mikroba tersebut memiliki susunan yang banyak dan cukup rumit karena terdiri dari 300 senyawa kimia yang ada di dalamnya. Selain itu rangkaian tersebut bervariasi alias tiap orang memiliki kadar berbeda-beda dalam senyawa kimianya. Maka dari itu ada orang yang bisa terkena gigitan nyamuk secara sporadis, namun orang lain hanya terkena gigitan sedikit saja.


Kadar mikroba pada gitan nyamuk Source: Shutterstock
Kadar mikroba pada gitan nyamuk

Perbedaan kecil dalam komposisi karangan bunga kimia ini dapat menjelaskan perbedaan besar dalam berapa banyak gigitan yang didapat seseorang. Komposisi koloni-koloni mikroba itu juga dapat bervariasi dari waktu ke waktu pada individu yang sama. Hal itu dikemukakan oleh Jeff Riffell, profesor biologi di University of Washington.

Perbedaan itu menyebutkan bahwa orang dengan keragaman mikroba kulit yang lebih besar cenderung mendapatkan lebih sedikit gigitan nyamuk daripada yang memiliki mikroba kulit yang kurang beragam. Kandungan dari mikroba yang terdapat di kulit pun meliputi Leptotrichia, Delftia, Actinobacteria Gp3 dan Staphylococcus serta Pseudomonas dan Variovorax.

Baca Juga: 5 Macam Orang yang Paling 'Dicintai' Nyamuk

Jadi dengan hasil penelitian tersebut sedikit memberikan suatu pencerahan mengapa di saat beberapa orang alami terkena gigitan nyamuk tapi orang lain tidak mengalaminya.