Mengapa Gaun Pernikahan Identik dengan Warna Putih?

Sep 3, 2019 9:30 AM

Pernikahan memang sesuatu yang amat sakral dan suci karena saat itu kita akan mengikat janji untuk setia Bersama pasangan kita di depan tuhan dan para saksi yang dating ke acara pernikahan kita. Apalagi, semua orang pasti berharap bahwa pernikahan mereka akan terjadi sekali seumur hidup.

Selain itu pernikahan merupakan kehidupan baru bagi sepasang pengantin untuk memiliki hidup baru agar bisa selalu mandiri dan tidak bergantung kepada orang tua. Saat acara pernikahan, segala sesuatunya disiapkan dengan sangat teliti dan dipilih dengan baik, termasuk gaun pernikahan.

Baca Juga: Dari Menjijikan Hingga Ektrem, Ini Tradisi Unik Pernikahan dari Berbagai Negara

Di zaman modern ini, pilihan gaun pengantin sudah bermacam-macam. Namun, tidak dapat dipungkiri, gaun putih klasik tetap menjadi primadona bagi sebgaian besar orang. Hal ini bahkan memunculkan semacam aturan tertulis untuk tamu supaya tidak menggunakan gaun warna putih saat menghadiri pernikahan orang. Karena, warna putih identik dengan mempelai wanita. Sejak kapan menggunakan gaun putih saat menikah menjadi tradisi? Ini dia sejarahnya.


Mengapa Gaun Pernikahan Identik dengan Warna Putih? Ini SejarahnyaSource: www.historyextra.com
Ratu Victoria dan Albert

Sebelumnya, di tahun 1800 sebenarnya di daerah Eropa warna putih identik dengan hari berkabung. Alasannya saat Ratu Skotlandia, Mery menikah juga mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Namun setelah beberapa tahun menikah suaminya meninggal dunia dan Ratu Mery pun juga mengenakan gaun berwarna putih yang sama, dan tersiar kabar gaun putihnya itu merupakan kutukan karena suaminya yang meninggal.

Lalu, populerlah gaun pengantin berwarna merah. Para pengantin dari segala penjuru di Negara Eropa banyak yang mengenakan gaun pengantin berwarna merah. Para bangsawan eropa pun banyak yang memakai gaun pengantin berwarna merah dengan alasan bunga mawar merah melambangkan romantisme.

Baca Juga: Kenapa Roti Buaya Bisa Jadi Lambang Budaya Betawi?

Hingga ketika di umurnya yang 20 tahun, Ratu Victoria mengubah itu semua, karena saat ia berjalan di altar ia mengenakan gaun pengantin berwarna putih berenda dengan karangan bunga saat menikah dengan suaminya bernama Albert. Meskipun terlihat sangat cantic dan anggun, muncul pro dan kontra. Hal ini dikarenakan gaun putih masih identik dengan berkabung. Orang-orang bahkan berpendapat bahwa ratu Victoria mengutuk Albert dengan menggunakan gaun putih saat menikah.


Mengapa Gaun Pernikahan Identik dengan Warna Putih? Ini SejarahnyaSource: daily.jstor.org
Lukisan pernikahan Ratu Victoria.

Namun, anggapan tersebut dipatahkan beberapa tahun kemudian oleh Godey’s Lady Book, sebuah majalah wanita popular. Salah satu artikel di di dalamnya menyatakan bahwa putih adalah warna yang sangat tepat untuk digunakan dalam sebuah pernikahan. Hal ini dikarenakan putih melambangkan sebuah arti kejujuran dan kepolosan seorang anak remaja karena hatinya masih suci dan belum ternoda.

Semenjak saat itu, gagasan bahwa warna putih identik dengan kematian dan berkabung mulai pudar sedikit demi sedikit. Mulai banyak pengantin Eropa yang mengenakan gaun putih untuk pernikahan mereka. Kebiasaan ini bahkan “menular” ke berbagai negara di dunia. Akhirnya, sampai sekarang, di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, gaun pengantin diidentikkan dengan warna putih, khususnya pada pernikahan bertema internasional.

Baca Juga: Impian Pernikahan Millennial yang Masih Didebatkan