Kenapa Ruang Angkasa Nampak Hitam Padahal Ada Matahari?

May 14, 2019 3:05 AM

Pernahkah kamu bertanya-tanya, "mengapa ruang angkasa yang begitu luas ini berwarna hitam?"

Coba bayangkan bagaimana bila warnanya putih. Apakah lubang hitam akan menjadi kelihatan jelas? Apakah kita masih bisa melihat kerlip bintang di langit?

Video What If the Universe Was White Instead of Black? punya penjabaran ilmiah yang menarik terkait hal ini.

Dilansir Insh.world, pertama secara definisi, warna adalah spektrum nampak dari gelombang cahaya. Objek berwarna hitam menyerap semua warna dari spektrum tersebut. Dengan kata lain, warna "hitam" sebenarnya adalah sebuah ketiadaan warna. Sedangkan warna "putih", merupakan pencampuran semua warna dan mengandung seluruh gelombang cahaya yang terlihat.


Kesimpulannya, warna adalah cara pandang sensor persepsi kita terhadap dunia. Dan kaitannya dengan alam semesta, bisa dibilang tadinya berwarna putih. Saat ledakan "big bang" menghasilkan jagat raya, tidak terdapat bintang-bintang untuk memancarkan cahaya. Jagat raya pun nampak buram dengan "sup panas" proton, elektron, dan neutron.

Setelah 300.00 tahun berlalu, ruang angkasa mulai dingin dan partikel-partikel tadi mulai menyatu menjadi atom dan molekul. Alam semesta berubah menjadi transparan. Meski begitu, bila kita bisa melihatnya, yang nampak hanya kegelapan. Pasalnya, tidak ada sumber cahaya sama sekali yang tercipta.

Baca Juga: Bila Bulan Jatuh ke Bumi, Kengeriannya Bakal Mengagumkan

Masa-masa ini merupakan era kegelapan kosmik, yang berakhir ketika bintang pertama mulai terbentuk akibat percampuran hidrogen dengan helium.


bulanSource: Pixabay
Kenapa ya alam semesta tetap gelap?

Bintang-bintang pertama tersebut 300 kali lebih besar dari matahari, juga jutaan kali lebih terang. Mereka bersinar selama beberapa juta tahun sebelum akhirnya meledak dan kita kenal sebagai supernova.

Radiasi yang membesar dari bintang-bintang pertama tersebut kemudian mengionisasi atom hidrogen, lalu memisahkannya kembali menjadi proton dan elektron. Saat itulah alam semesta yang gelap mulai terang. Tapi kenapa ya alam semesta tetap gelap? Padahal banyak bintang baru dan galaksi yang tercipta.

Inilah yang dinamakan Paradoks Olbers. Bila alam semesta terlihat putih benderang, maka itu berarti usianya sangat tua, besar dan statis pada waktu bersamaan. Bila itu terjadi, maka alam semesta akan nampak berbeda dari yang kita tahu saat ini. Padahal, alam semesta terus meluas.

Baca Juga: Jika Alien Datang Esok Hari, Ini yang Mungkin akan Terjadi


universeSource: Pixabay
Kita hanya bisa melihat cahaya bintang yang lokasinya kurang dari 14 miliar tahun cahaya dari bumi.


Alam semesta berusia kurang dari 14 miliar tahun dan kecepatan cahaya memengaruhi apa yang kita lihat. Meski seharusnya alam semesta putih benderang karena usianya terlihat tua, perlu diingat bahwa cahaya juga memiliki batas kecepatan. Kita hanya bisa melihat cahaya bintang yang lokasinya kurang dari 14 miliar tahun cahaya dari bumi. Kita tidak mampu melihat bintang yang lebih jauh dari itu karena cahayanya belum sampai ke bumi.

Baca Juga: 7 Fakta Lubang Hitam Yang Belum Anda Ketahui

Dan, karena alam semesta terus bertambah luas, panjang gelombang cahaya juga bertambah dan bergeser menjadi merah hingga akhirnya mata manusia tidak mampu melihatnya lagi. Ini merupakan alasan lain dari kenapa alam semesta nampak hitam legam. Ruang angkasa sebenarnya dipenuhi dengan berbagai macam radiasi, hanya saja kita tidak bisa melihatnya.

Lalu bagaimana dengan lubang hitam? Meski lubang hitam merupakan sumber cahaya yang besar, kita tetap tidak mampu melihatnya. Pasalnya, lubang hitam memiliki gaya tarik atau gravitasi yang luar biasa kuat, sehingga tidak bias memancarkan cahaya dan tidak pernah bisa nampak. Dan, kembali lagi, warna "hitam" merupakan ketiadaan warna.

(ruw)