Sumber foto: ShutterStock


Kapan terakhir kali kamu ke museum? Kalau ke galeri seni? Membosankan ya?

Maklum saja kalau kamu merasa begitu. Meski generasi milenial tak perlu diragukan lagi level ke-artsy-an nya, di era serba serba digital ini media sosial terutama Instagram telah mengubah cara mengonsumsi seni.

Alih-alih sekedar memandangi berbagai instalasi seni, lukisan, atau apapun, kaum muda cenderung ingin menjadi bagian dari semua itu. Hasrat mengambil foto kece di lokasi yang instagramable dan membagikannya ke khalayak umum mungkin terasa lebih menggoda daripada menikmatinya untuk diri sendiri.

Lalu apakah masa depan museum di Indonesia telah mati? Arsitek Cosmas D Gozali mengungkapkan, salah satu alasan rendahnya minat masyarakat Indonesia berkunjung ke museum karena museum di Indonesia cenderung memberi kesan menyeramkan.

"Ada pula anggapan bahwa museum ini hanya untuk golongan tertentu saja, sehingga mereka minder untuk masuk museum dan menikmati karya seni yang ditampilkan," kata dia, dikutip dari Suara beberapa waktu lalu.

Hmm, dunia telah berubah, dan semua pihak rasanya harus menyesuaikan diri bila ingin bertahan. Termasuk museum bila tak ingin sepi pengunjung. Hasrat generasi jaman now, hunting foto ke tempat-tempat indah nan instagramable tentu harus dimanfaatkan sedemikian rupa.

Video Vox berjudul How "Instagram traps" are changing art museums menunjukan ada sebuah galeri di Brooklyn, Amerika Serikat yang menggunakan pendekatan unik.


Lokasinya berada dalam sebuah warehouse atau gudang. Meski begitu saat kita melangkah masuk, kita serasa dibawa ke alam mimpi. Meski menghadirkan eksebisi seni, cara keindahannya tersajikan tergantung pada hasil jepretan kamera smartphone pengunjung. Eksebisi tersebut merupakan bagian dari tren pop-up art generasi baru yang menawarkan pengalaman yang tidak dinikmati secara langsung, tapi juga di Instagram alias instagramable.  

Masih banyak lagi di luar negeri sana yang mengusung ide sedemikian rupa. Dari museum es krim, museum selfie, museum perasaan, hingga museum tematik warna, mimpi, pizza, telur, dan lain sebagainya. Mencengangkannya lagi, berbagai museum tersebut bisa mematok tiket masuk sekitar USD40 (sekitar Rp600 ribu) dan selalu ludes terjual.

Yep, seperti kita bahas tadi, Instagram memang telah mengubah cara kita mengonsumsi seni. Seni yang interaktif terasa jauh lebih menarik bagi publik kekinian.

"Di museum-museum ini, ruangan dan dirimu lah yang jadi objek utama. Dan inilah yang menjadikannya 'instagramable', kamu menyatu dengan karya seni itu," kata Julius Lizardo, seorang pengunjung museum 29rooms dalam video tadi.

Well, Indonesia bukannya sepi dari museum instagramable. Lihat saja museum seni modern dan kontemporer Museum Macan di Jakarta.

Tapi mari bayangkan bila museum-museum konvensional seperti Museum Ronggowarsito di Semarang dan Museum Fatahillah di Jakarta misalnya, sedikit dimodifikasi layaknya museum-museum pop-up art tadi (tentunya tanpa mengubah maupun merusak keotentikannya). Mungkin kah akan lebih banyak generasi muda yang jadi tertarik untuk mengenal negerinya sendiri lewat museum?

(hrd/ruw)