Inilah Alasan Mengapa Perang Meninggalkan Trauma Paling Mendalam bagi Anak-anak

May 10, 2019 9:30 AM

Situasi menyeramkan yang terjadi di Suriah telah menjadi contoh penyebab korban emosional yang besar bagi anak-anak. Pasalnya, anak-anak sangat sensitif terhadap lingkungan mereka yang mengalami kesulitan sepanjang perang. Setelah kematian suaminya dalam perang saudara Suriah, Amouna Sharekh Housh mengumpulkan delapan anaknya dan menuju keselamatan di negara tetangga Lebanon. Di perbatasan Lebanon, militan Negara Islam (ISIS) menuntut agar Housh menyerahkan anak-anaknya kepada mereka.

Housh jelas menolak, bahkan ketika seorang prajurit ISIS menodongkan pistol ke kepala putranya yang berusia 9 tahun, Manar ia tetap mempertahankan buah hatinya. Setelah melewati pos pemeriksaan neraka itu, keluarga yang masih utuh pindah ke sebuah kamp pengungsi Lebanon. Rumah mereka adalah tenda, makanan langka, dan fasilitas sanitasi yang minim.

Anak-anak yang tadinya tenang, sekarang gelisah dan bergejolak secara emosional, termasuk yang dialami Manar. Ia menderita post-traumatic stress disorder (PTSD), suatu kondisi yang termasuk memiliki pikiran dan mimpi yang menyiksa tentang peristiwa-peristiwa menyedihkan, merasa terpisah dari orang lain, tetap dalam keadaan siaga tinggi untuk bahaya potensial dan bereaksi keras terhadap frustrasi kecil.

Baca Juga: Unik! Di Rusia, Anda Bisa Membeli Kendaraan Perang Melalui Toko Online


Pengungsi SuriahSource: WestVirginia
Anak-anak menjadi korban mental yang paling terdampak dari situasi perang.

Setahun berselang, Housh berbagi kisah dengan para pekerja di pusat terapi dan pelatihan kejuruan Beirut yang dijalankan oleh Art of Hope nirlaba yang berbasis di New York City. Housh pun memberi mereka izin untuk menceritakan kisahnya di situs web organisasi.

Keluarga Housh mewakili setetes air mata yang mengalir dari Suriah. Sejak perang saudara meletus pada awal 2011, Komisi Tinggi Pengungsi (UNHCR) AS memperkirakan bahwa lebih dari 5 juta warga Suriah telah meninggalkan negara itu dan 6,6 juta orang lainnya yang mengungsi dari rumah mereka masih tinggal di Suriah. UNHCR mencatat sekitar 1 juta pengungsi Suriah di Libanon, lebih dari setengahnya adalah berusia 17 tahun atau lebih muda.

Keluarganya juga menyoroti fakta perang yang menyedihkan bahwa semua orang menderita. Kebanyakan orang yang hidup melalui konflik kekerasan dan trauma ekstrem lainnya mengalami gejolak emosi, tetapi tidak sampai ke titik PTSD. Minoritas seperti Manar, akan menderita luka psikologis parah yang tidak sembuh tanpa bantuan dari luar.

Baca Juga: 7 Alutsista Canggih Milik TNI, Salah Satunya Jet Termahal di Dunia!


Pengungsi Suriah.Source: WorldVision
Melalui lembaga UNCHR, dunia berupaya memulihkan kondisi mental anak-anak pengungsi Suriah.


Sebuah investigasi baru yang dilakukan dengan para pengungsi muda Suriah di Libanon mengungkap mengapa beberapa anak secara emosional pulih sementara yang lain layu dalam menghadapi kengerian masa perang. Anak-anak yang melarikan diri dari zona perang sangat mungkin menderita PTSD jika sebelum konflik militer mengubah dunia mereka menjadi terbalik.

Baca Juga: 6 Pasukan Elite TNI Ini Bikin Musuh Pikir Dua Kali!

Psikiater Lebanon, Elie Karam menyebut ada dua faktor yang berperan pada kasus ini. Pertama, anak-anak muda yang rentan terhadap PTSD tumbuh dengan kesadaran khusus dan responsif terhadap aspek baik dan buruk dari keluarga, sekolah dan lingkungan mereka. Kedua, anak-anak yang peka terhadap lingkungan akan menghadapi kesulitan di awal, seperti penyakit fisik serius ataupun berselisih dengan sang orang tua.