Ini Dia Alasan Kenapa Orang Lebih Galak Di Media Sosial

Feb 19, 2019 12:38 PM


Kemajuan internet membuat semua orang menjadi aktif menggunakan media sosial. Berbagai media sosial seperti Facebook, Twitter dan Instagram menjadi salah satu yang favorit digunakan orang termasuk Indonesia. Melalui media sosial, semua memang menjadi lebih mudah. Kamu bisa berkomunikasi secara langsung tanpa melihat jarak.

Sayangnya, penggunaan media sosial kerap kali tidak sejalan dengan etika yang baik. Orang dengan mudah melemparkan kata-kata kasar bahkan, menghujat melalui media sosial. Di balik akun yang tak terlihat identitasnya, orang sangat mudah melemparkan komentar buruk. Kamu juga mungkin bisa melihat adanya perubahan hal ini.

Orang yang nampak kalem di dunia nyata, bisa saja berubah menjadi galak dan mudah menghujat orang di media sosial. Perbedaan pendapat atau pandangan sedikit sudah memicu amarah. Komentar negatif sangat mudah dilakukan padahal aslinya sangat kalem! 

Kok bisa ya? 

Media sosial sendiri memang memberikan banyak manfaat. Selain bisa mempermudah komunikasi, media sosial juga membuat kita kaya akan informasi. Kamu juga bisa mendapatkan skill baru hanya melalui media sosial. Seorang psikolog Dr. Graham Lee, Ph.D., mengungkapkan bahwa, media sosial memang mengubah perilaku sosial pada masyarakat, mungkin termasuk saya dan juga kamu.

Media sosial memang memberikan terobosan baru dalam komunikasi. Bagaimana tidak? kamu bisa berkomunikasi tanpa perlu bertatap muka. Biasanya, kamu berkomunikasi dengan melihat wajah seseorang dan melihat gerak-geriknya saat berbicara padamu. Namun, dengan media sosial kamu tidak perlu melihat ekspresi dan wajahnya. Kondisi ini akan membuat seseorang justru lebih berani untuk mengungkapkan hal yang buruk.

Sumber foto: Pixabay

Ada kondisi yang disebut dengan deindividualisasi. Kondisi ini terjadi ketika identitas seseorang sulit untuk dikenali. Hal itu membuat orang bisa bersembunyi di balik identitas yang tidak dikenal. Saat di media sosial, orang bisa membuat fake account yang tidak memakai nama asli. Kamu bisa memakai gambar apapun untuk merepresentasikan wajahmu. Hal ini akhirnya, membuat orang secara bebas mengeluarkan pendapatnya. Mulai dari membuat berita bohong atau hoax serta berbagai macam kebencian.

Kondisi inilah yang membuat seseorang terlihat baik di dunia nyata, akan terlihat lebih galak, berani dan dengan mudahnya menghujat, serta merendahkan orang lain. Deindividualisasi yang terjadi akhirnya membuat orang jadi kurang bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan dan kata yang diucapkan. Apalagi di media sosial seseorang dengan mudah bertemu dengan orang lain. Saat merasa didukung, orang akan semakin beraniuntuk berbicara. Selain memberikan manfaat positif, kalau tak diatur dengan baik maka media sosial bisa menjadi masalah bag banyak orang. 

(gn)