Impian Pernikahan Millennial yang Masih Didebatkan

Jan 18, 2019 11:09 AM

Siapa sih yang enggak mau memiliki pernikahan impian. Bagi generasi millennials mewujudkan sebuah pernikahan impian bukalah hal yang mudah. Tradisi dan budaya pernikahan di Indonesia lekat dengan adat dan persiapan yang super ribet. Kamu juga harus menghadapi tantangan terbesar yakni menyatukan keinginan kamu dan orangtua.

Setiap orangtua pasti menginginkan sebuah pesta pernikahan yang terbaik, lengkap dengan susunan acara adat istiadat yang kental akan nilai-nilai budaya. Orangtua masih terlalu sulit menerima konsep pernikahan anak milenial yang super minimalis. Tantangan pertama yang harus dilewati yakni pemilihan tanggal. Bagi sebagian besar orangtua masih mempercayai adanya hari baik untuk melangsungkan pernikahan. Beberapa daerah di Indonesia, masih ada saja yang menghitung tanggal lahir kedua calon mempelai untuk menentukan tanggal pernikahan. 

Enggak kalah ribetnya dengan pemilihan tanggal, penentuan tamu undangan juga jadi hal yang pe-er banget. Kita tuh pasti pengennya ngundang yang dekat-dekat saja, jadi acaranya akan lebih santai dan jauh dari kata kaku. Kamu juga bisa merespon dengan baik semua tamu yang hadir dan enggak perlu saling tanya pada pasangan ‘dia siapa sih, kamu kenal?’ Karena pada dasarnya millennial selalu merencanakan hal praktis, cuek, dan pastinya murah.

Sedangkan orangtua, pengennya super rame, ngundang seluruh keluarga besar, tetangga sekomplek, bahkan kalau perlu ngundang teman-teman masa sekolahnya dulu, sekalian reuni dadakan.

Sejak dua tahun sebelumnya pesta nikahan dengan konsep santai menjadi pilihan milenial. Misalnya melangsungkan akad di tengah hutan, dengan ornamen serba kayu, mulai dari kursi, meja sampai peralatan makan. Bisa juga menyulap gedung dengan dekorasi hutan Namun, pada pertengahan tahun lalu, publik dikejutkan dengan konsep nikahan yang dilakuakn beauty vlogger, Suhay Salim.

Suhay bisa saja mengadakan pesta nikahan super mewah, mengingat penghasilannya sebagai beauty vlogger terbilang funtastis. Namun, Suhay dan suami lebih memilih menikah di KUA. Jauh dari kata ribet, keduanya resmi menikah dengan balutan busana kasual yakni kemeja dan celana jins. Kebayang dong serunya gimana, kamu enggak perlu bangun jam 4 pagi untuk make up super tebel dan pakai baju nikahan yang kadang bikin gatel karena tumpukan payet.

Bagi milenials merencanakan kehidupan setelah pernikahan lebih penting daripada harus membuang-buang uang untuk pesta yang berlangsung enggak lebih dari dua jam itu. Perhitungannya pun sangat mudah, milenial umumnya baru bekerja selama 3-8 tahun dengan gaji berkisar Rp 3-9 juta per bulan. Rasanya sangat sulit untuk membuat pesta nikahan gede-gedean. “Daripada buat pesta, mending uangnya buat liburan sekaligus honeymoon” “Mending bayar cicilan rumah daripada sewa organ tunggal” dan masih banyak ungkapan milenial lainnya yang menginginkan pesta nikahan sederhana.(ayi)