Greenpeace Tuding Nestle dan Unilever Biang Kerok Limbah Plastik!

Mar 27, 2019 9:30 AM

LSM yang memperjuangkan kelestarian lingkungan, Greenpeace menuding Nestle sebagai salah satu biang kerok sampah plastik dunia. Dalam sebuah unggahan instagramnya, Greenpeace Indonesia menyebutkan Nestle telah menyumbang 1.7 juta ton plastik yang akhirnya mencemari lingkungan. Selain Nestle, perusahaan raksasa lainnya yang dituduh mencemari lingkungan oleh Greenpeace adalah Unilever. Perusahan yang memproduksi kebutuhan sehari-hari itu disebut oleh Greenpeace menggunakan 610.000 metrik ton plastik untuk mengemas produk-produknya dan limbahnya berakhir tak terurai di alam


Greenpeace pun ciptakan sebuah “monster laut” dari limbah plastik yang ada di lautan, dan mengirim monster tersebut ke pabrik perusahaan di atas sebagai bentuk pengantaran pulang monster-monster tersebut ke habitat aslinya.


Dalam kampanyenya itu, Greenpeace juga menyebutkan Lebih dari 90% plastik yang diproduksi tidak pernah didaur ulang, namun korporasi berencana untuk meningkatkan produksi kemasan plastik secara drastis. Di tahun 2050, diperkirakan akan ada 12 miliar ton sampah plastik mencemari lingkungan. Dampak polusi plastik ini paling dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar sungai dan pesisir di Asia Tenggara dan berbagai komunitas di seluruh dunia.


Di Indonesia sendiri, dilansir dari Indopos, Koordinator Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik Rahyang Nusantara di Jakarta, Selasa (26/3/2019), mengatakan sampah kantong plastik menjadi penyumbang terbesar sampah di Indonesia apalagi jika diakumulasikan dengan sedotan, sendok, dan styrofoam yang juga terbuat dari bahan plastik. Dari Ibukota saja, 300 juta kantong plastik terbuang ke laut lepas, menurut data Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik.


Beruntung, kini makin banyak orang sadar akan bahaya kantong plastik dan memulai tren diet kantong plastik seperti tidak menggunakan plastik sekali pakai untuk wadah makanan, botol minuman, hingga sedotan. Rahyang menyebutkan lebih lanjut, langkah yang bisa ditempuh selanjutnya adalah lebih selektif dalam memilih tempat belanja ataupun rumah makan yang lebih peduli terhadap isu lingkungan untuk penyempurna gerakan diet plastik itu sendiri


Kantong plastik (dan jenis plastik lainnya) sulit terurai di tanah karena rantai karbonnya yang panjang, sehingga sulit diurai oleh mikroorganisme. Kantong plastik akan terurai ratusan hingga ribuan tahun kemudian. Kantong plastik yang diklaim ramah lingkungan pun akan terurai lama dan tetap akan menjadi sampah. Tak sedikit penyu yang menelan kantong plastik karena mengira plastik tersebut adalah seekor ubur-ubur. Baru-baru ini, ditemukan 40 kilogram sampah plastik, di dalam perut paus yang terdampar di sebuah perairan Filipina. Sebelumnya, sampah 5,9 kilogram juga ditemukan di perut paus sperma yang mati di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, pada  November 2018 lalu

Polemik sampah plastik sekali pakai yang tak kunjung usai. (Sumber: gokunming.com