Fenomena Kecanduan Drama Korea, Hiburan Atau Racun?

January 21, 2019 9:46 AM

Drama Korea menjadi salah satu tontonan yang digandrungi sebagian masyarakat Indonesia. Enggak mengenal usia, dari mulai remaja hingga ibu-ibu, baik laki-laki maupun wanita, rasanya sudah akrab dengan drama dari Negeri Ginseng tersebut.

Wajar jika banyak orang tertarik untuk menontonnya. Jalan cerita yang ditawarkan pun beragam. Enggak melulu soal romansa dan kisah cinta ala belia, karena ada kalanya pertunjukan serial laga, sejarah hingga lainnya. Mana yang paling kamu suka?

Enggak cuma terjadi di Indonesia, karena fenomena kecanduan K-Drama ini terjadi di berbagai negara. Bahkan berhasil menggeser popularitas film India atau telenovela, yang sudah menghibur pecinta drama sejak dulu kala. Hingga muncul istilah Koreanovela, untuk menggambarkan kepopuleran drama asal Korea Selatan itu.

Buat kamu yang belum tahu rasanya, jangan pernah mencoba-coba untuk menontonnya. Sekali mencoba, biasanya akan ketagihan untuk terus menonton dari satu serial drama ke judul yang lainnya. Bahkan, sejak meledaknya Endles Love di tahun 2000 diikuti dengan tayangnya Winter Sonata di tahun 2002, pecinta K-Drama garis keras nggak akan bosan lho untuk menontonnya berulang-ulang.

Mengutip NBC News, perusahan analitik data comScore mencatata jika Dramafever (situs web favorit para K-Drama) berhasil menarik 2,4 juta penonton pada November 2016. Mereka melaporkan jika ada 800 juta menit kunjungan per bulan. Wow, sebuah pencapaian yang sangat fantastis.

Menurut Ji-Yeon Yuh, seorang profesor Studi Asia-Amerika di Universitas Northwestern mengatakan jika fenomena kecanduan K-Drama dipengaruhi oleh faktor struktural, seperti kemudahan membuka internet yang membuat masyarakat internasional lebih mudah mengaksesnya. Selain itu menurut Ji-Yeon Yuh, budaya Korea memiliki daya tarik tersendiri dengan menawarkan estetika modernitas yang berbeda. Diantaranya, berikut beberapa faktor yang buat kamu bisa melepaskan diri dari kecanduan satu ini.

Artis Cantik dan Tampan

Nggak bisa dipungkiri jika daya tarik utama K-Drama adalah para pemerannya yang memiliki wajah menarik. Orang Korea dikenal sebagai pecandu perawatan kecantikan, yang membuat penampilan mereka nggak pernah bosan untuk dinikmati.

Pakaian Lebih Modis

Baik artis laki-laki maupun wanita, memiliki selera berpakaian yang stylish. Pilihan fashion mereka menjadi trendsetter di kalangan anak-anak muda, termasuk kalian juga menbgikutinya bukan?

Meskipun diceritakan kehidupan mereka nggak kaya-kaya banget tapi pasti pakaian mereka menarik dan modis. Bahkan, menjadi semacam street style yang tentunya layak untuk diikuti.

Menawarkan Komedi yang Lebih Fresh

Para aktor Korea dituntut untuk memiliki gaya komedi yang menghibur. Mulai dari ekspresi wajah hingga cara bicara, yang kerap diikuti para penggila K-Drama. seperti saat mengatakan Aigo! Omo! Atau Saranghae. Cara menyampaikannya bersemangat, diikuti dengan gesture mengacungkan jempol dan telunjuk yang disilangkan sebagai lambang 'love'. Hayo ngaku, sering mengikutinya juga kan?

Pengalaman Menonton yang Memperkaya Wawasan

Dalam beberapa serial drama seperti Good Doctor, para penonton diajak untuk mengenal istilah medis dan dunia kedokteran dengan cara yang paling ringan. Berbeda lagi dalam serial Jewel in the Palace atau lebih dikenal dengan Dae Jang Geum yang mengajak kita untuk kembali ke masa dinasti Joseon, dalam mengangkat kisah nyata tentang dokter wanita pertama di Korea.

Masih banyak lagi K-Drama yang mengajak kita untuk menjelejah dunia kepolisian, pengacara, hingga dunia di balik layar tentang kesuksesan artis Korea dalam merintis karier mereka.

Alur Cerita Tak Terduga

K-Drama biasanya memiliki alur cerita yang selalu mengejutkan. Dalam beberapa action drama, mereka memiliki jalan cerita yang mendebarkan dengan ending nggak mudah ditebak. Begitu pula dengan drama-drama sejarah, yang dibumbui dengan fantasi, roamtisme dan intrik yang menimbulkan ketegangan dari awal hingga akhir cerita.

Satu yang nggak kalah menarik, tentunya tentang drama romantisnya. Bahkan, pada beberapa orang bisa menimbulkan kecanduan akut. Mulai dari membayangkan hingga menempatkan diri sebagai pemeran utama, berlanjut pada jatuh cinta setengah mati pada pemeran Oppa atau Ajjusi yang tampan dan kaya raya. Sehingga memunculkan 'romantyc pornography'. Sebuah istilah untuk menggambarkan bagaimana drama romantis, secara tidak masuk akal akan menaikan standar laki-laki idela di dunia nyata.

Banyak wanita yang berharap akan memiliki pasangan setampan, semapan dan seromantis para Oppa Korea. Persepsi mengenai laki-laki sejati dan bagaimana mereka 'seharusnya' bersikap pada wanita cenderung meningkat. Wah, kalau sudah begini tentu repot ya para cowok-cowok dibuatnya. Akankah mereka mampu memenuhi tuntutan para wanita?

Atau kalian, para gadis yang seharusnya berhenti menonton K-Drama dan kembali pada realita dunia nyata?(ayi)