Di Desa Ini Pencuri Tidak Dihukum, Malah Diberi Nafkah Sama Orang Sekampung!

Aug 6, 2019 9:00 AM

Mencuri merupakan sebuah kejahatan, dan masuk dalam kategori perbuatan dosa. Meskipun masuk dalam kategori tipiring alias tindak pidana ringan, terkadang masyarakat menghukumi para pencuri dengan cukup sadis, dari mulai dipukuli, hingga dibakar.

Tentu saja tindakan main hakim sendiri yang kerap dilakukan sebagian besar masyarakat Indonesia ini harus dihentikan. Bagaimanapun juga, Indonesia merupakan negara hukum, dan biarkan para pencuri tersebut dihukum sesuai dengan kadar kejahatannya. 

Baca Juga: Jajanan Pasar Khas Sunda, Dessert Warisan Yang Harus Dilestarikan

Nah, terkait tindakan pencurian, cobalah belajar ke masyarakat Desa Adat Boti, atau kerajaan Boti di NTT. Di sana terdapat sebuah hukum yang cukup unik, tapi punya pesan moral yang tinggi. Para pencuri di sini tidak dihukum, tapi malah diberi nafkah. 

Di Desa Boti Pencuri Malah Diberi Nafkah


Masyarakat Desa BotiSource: Tempo.co
Masyarakat Desa Boti

Desa Adat Boti atau Kerajaan Boti terletak sekitar 30 km dari Soe, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Mereka tepat berada daerah pegunungan di Kecamatan Kie, dan merupakan salah satu pewaris tradisi suku asli pulau Timor, Atoni Metu.

Sama seperti masyarakat Badui di Jawa Barat, penduduk Desa Adat Boti terbagi menjadi dua kategori, yakni Boti Dalam dengan jumlah penduduk sekitar 77 KK atau sekitar 319 Jiwa, dan Boti Luar dengan jumlah penduduk mencapai 2.500 jiwa. 

Penduduk Desa Adat Boti Dalam inilah yang sepenuhnya masih memegang tradisi leluhur. Mereka masih menganut agama nenek moyang yang disebut Halaika, dan dipimpin oleh seorang usif atau Raja bernama usif Namah Benu.


Masyarakat Boti Hidup Dalam KesederhanaanSource: Tempo.co
Hidup dalam kesederhanaan

Mereka mendiami wilayah seluas 3.000 meter persegi yang dikelilingi pagar kayu, dan hidup damai dengan hukum adat yang cukup unik. Salah satunya adalah, pencuri dilarang untuk dihukum, tetapi mereka harus diberi nafkah oleh seluruh penduduk kampung. 

Mereka percaya, saat dihukum pencuri akan kembali kepada kebiasaan buruknya, yakni mencuri. Jadi agar tidak mencuri lagi, para pencuri ini harus diberi nafkah. Caranya, kepala keluarga di Desa Boti ini akan mengumpulkan barang-barang untuk diberikan kepada si pencuri.

Baca Juga: Alasan Di Balik Orang Batak Harus Menikah dengan Orang Batak

Hal yang sama berlaku saat si pencuri ini mencuri hasil pertanian, seperti pisang dan kelapa, penduduk desa akan diminta untuk menanam pisang atau kelapa, dan memberikan hasil pertaniannya kepada si pencuri sesuai dengan kebutuhannya. 

Sangat Menjaga Kelestarian Alam


Upacara adat BotiSource: Joko Warino Blog
Upacara adat di Desa Boti

Hukum adat masyarakat Boti pun membuat mereka senantiasa bersentuhan dengan alam, sehingga mereka sangat serius dalam menjaga kelestarian alam. Mereka yakin jika kesejahteraan dan kemaslahatan hidup hanya bisa didapat dengan cara menjaga dan merawat alam. 

Contoh tradisi luhur yang patut diteladani adalah, saat mereka menebang satu buah pohon, mereka wajib menggantinya dengan menanam 5-10 pohon. Selain itu, ada juga ritual adat yang dilakukan tiga kali dalam setahun, yakni tradisi membersihkan kebun, setelah menanam, dan setelah memanen.

Meski penerapan ajaran leluhur sangat kental, mereka terbuka terhadap pendidikan. Mereka punya aturan saat punya 4 anak, maka 2 anak wajib mengenyam pendidikan formal, dan 2 anak lagi belajar untuk mengenal dan difungsikan sebagai penjaga tradisi dan adat masyarakat di sana. 

Baca Juga: Bumerang, Senjata Unik Suku Aborigin yang Ditemukan Secara Tak Sengaja

Anak-anak calon penerus tradisi dan adat Boti ini akan belajar berbagai tradisi, di antaranya tradisi berkebun, memelihara ternak, menjaga kelestarian alam dan lainnya. Dengan cara ini, mereka bisa tetap melestarikan adat dan tradisi leluhur, tanpa harus teralienasi dari peradaban.

Bagaimana menurut kamu, masyarakat yang sangat unik dan keren banget bukan? Mudah-mudahan saja ajaran luhur mereka bisa kita contoh dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.