Sejarah Panjang Lagu Dangdut, dari Dangdut Lawas Hingga Dangdut Remix

August 8, 2019 2:00 AM

Dangdut is the music of my country, sebuah lagu dari Project Pop (band-parodi yang sempat hits di tahun 90an), seolah ingin menegaskan jika Indonesia sangat kaya akan budaya, bahasa dan suku bangsa. Tapi semua perbedaan tersebut bisa dengan mudah disatukan oleh lagu dangdut. 

Di Indonesia sendiri, perjalanan lagu dangdut terbilang cukup unik. Meskipun para ahli musik tidak satu suara, tapi kebanyakan pakar setuju jika lagu dangdut sangat dipengaruhi oleh musik-musik khas India, Timur Tengah, dan tentu saja unsur Melayu yang sangat kental.


Asal Usul Lagu Dangdut yang Unik


First Performance of Orkes Melayu Kenangan at RRISource Wikipedia
First Performance of Orkes Melayu Kenangan at RRI

Dalam majalah Tempo edisi 27 Mei 1972, budayawan sastra Indonesia, Putu Wijaya, menyebut jika kata “Dangdut” merupakan onomatope dari suara permainan tabla (gendang) dalam musik India. Hal ini dilakukan untuk menggambarkan bentuk lagu Melayu yang terpengaruh dari lagu dan musik India. Sementara itu, Andrew N Weintraub, dalam bukunya yang berjudul Dangdut Stories: A Social and Musical History of Indonesia's Most Popular Music, menjelaskan secara rinci bagaimana perjalanan lagu dangdut, dan asal usulnya sampai ke Indonesia. 

Secara garis besar, lagu dangdut berawal dari musik Melayu (Deli). Setelah itu, janis musik lagu dangsut ini menjadi cukup populer, dan kemudian bercampur dengan musik ansambel perkotaan, di dalamnya termasuk harmonium, orkes gambus, dan orkes Melayu. 

Masuknya lagu dangdut ke Indonesia, sangat dipengaruhi oleh qasidah sekitar tahun 635-1600. Ketika itu, qasidah sangat populer karena sering ditampilkan dalam pagelaran acara pesantren. Setelah itu, lagu dangdut mulai terpengaruh unsur gambus yang dibawa oleh orang-orang Arab di tahun 1870.

Di tahun 1940, musik Melayu Deli lahir. Ketika itu, Husein Bawafie dan Muhammad Mashabi, memperkenalkan musik ini hingga ke Batavia, dan mendirikan Orkes Melayu di sana. Puncaknya, di tahun 1950-1960, group-group orkes melayu ini mulai menguasai Jakarta.

Penampilan Husein Bawafie di BataviaSource Hellodangdut
Penampilan Husein Bawafie di Batavia

Karena persaingan yang cukup ketat, para pelaku orkes melayu pun mulai bereksperimen dengan memasukkan unsur-unsur tambahan, terutama dengan musik yang cukup populer saat itu. Salah satunya adalah unsur musik India, yang sangat berpengaruh lewat tabuhan gendang.

Menurut beberapa catatan, akulturasi antara musik India dan orkes melayu, dengan tambahan unsur musik gambus, merupakan awal dari mutasi irama Melayu ke lagu dangdut. Terlebih lagu dangdut ketika itu punya ciri khas yang sangat kuat, yakni cengkok dan harmonisasinya. 

Pada masa-masa ini, karya-karya P Ramlee (Malaysia), Said Effendi (lagu Seroja), sangat populer di Indonesia dan sangat sering dibawakan oleh para penyanyi dangdut ternama Indonesia dengan unsur India dan cengkok yang sangat unik, misalnya Husein Bawafie, Ellya Khadam, dan Munif Bahaswan. 

Baca Juga : ‘Dangdut Is The Music Of My Country’, Bagaimana Sejarahnya?

Di Era 70an, pengaruh musik India semakin kental dalam aliran lagu dangdut, terlebih ketika itu, lagu dangdut lawas seperti Terajana (Rhoma Irama), Khana (Mansyur. S), Boneka India (Ellya Khadam), dan lagu dangdut lawas lainnya sangat populer di Indonesia. 

Tanpa menghilangkan cengkok dangdut yang khas, ketika itu lagu dangdut lawas tersebut dinyanyikan dengan suaranya yang tinggi dan meliuk-liuk, mirip dengan lagu-lagu India. Menurut Pengamat musik Bens Leo, alunan India memang sangat berpengaruh dalam lahirnya irama lagu dangdut lawas, hingga lagu dangdut yang sekarang, seperti musik dangdut pantura, musik dangdut koplo palapa, hingga musik dangdut remix.

Bahkan menurut Bens, modifikasi antara musik melayu asli dengan adanya influence dari India, membuat musik dangdut terasa begitu unik. Justru orang-orang India sendiri merasa sangat surprise dengan adanya musik dangdut yang begitu kaya dan ekspresif. 


Gebrakan Rhoma Irama dalam Lagu Dangdut Lawas


Rhoma Irama sang Penggebrak DangdutSource Jurnal Ruang
Rhoma Irama Sang Penggebrak Dangdut

Perubahan politik di Indonesia yang lebih ramah terhadap dunia Barat, membawa banyak dampak pada perkembangan lagu dangdut atau musik dangdut. Jika awalnya musik dangdut sangat terpengaruh dari musik Melayu, Arab dan India, di awal 70an, unsur musik-musik Barat mulai masuk ke dalam lagu dangdut, baik itu dangdut lawas.

Adalah Rhoma Irama, yang ketika itu berani memasukkan unsur-unsur Barat dalam lagu dangdut yang dia ciptakan. Terlebih saat itu, Rhoma Irama sudah berani menggunakan gitar listrik dengan tambahan efek gahar khas musik-musik heavy metal, seperti Deep Purple, Led Zeppelin, hingga Black Sabbath

Tidak hanya itu, Rhoma Irama pun lewat Soneta Group (didirikan tahun 1973), mulai menggunakan alat tambahan, seperti organ elektrik, perkusi, saksofon, terompet, obo, dan lainnya ke dalam lagu dangdut yang dibawakannya. Alhasil, ketika itu musik dangdut yang ditawarkan Rhoma Irama menjadi sangat berbeda.

Meskipun begitu, apa yang dibawa oleh Rhoma Irama benar-benar positif. Terlebih di tahun 70an, musik-musik Rock, Heavy Metal, Progressive, dan musik-musik khas Barat lainnya mulai menyerbu, dan mendominasi Indonesia. Bahkan ketika itu dangdut tradisional mulai terpinggirkan.  Dengan masuknya unsur musik Barat yang sangat kental, membuat kehadiran Soneta Group jadi pilihan terbaik bagi mereka yang ingin menikmati musik-musik Barat yang sedang populer, tanpa meninggalkan musik dangdut yang memang sudah dianggap sebagai musik rakyat.


Rhoma Irama Saat di Soneta dan PopSource Brilio
Rhoma Irama Saat di Soneta dan Pop

Sebagai catatan, Rhoma Irama sendiri sebenarnya tidak datang dari unsur dangdut asli. Sebelum terjun ke dunia dangdut, dia justru lebih dulu berkecimpung di dunia musik pop. Bahkan Rhoma Irama sempat mengikuti festival musik pop di Singapura di tahun 1972, dan berhasil jadi juara. Sayang, menyandang gelar sebagai jawara musik pop, tidak lantas Rhoma Irama berhasil di dunia musik. Di awal karirnya, dia justru terseok-seok, dan sempat juga bergabung dengan sejumlah orkes Melayu, salah satunya OM Purnama (disini Rhoma Irama pernah berduet dengan Elvy Sukaesih).

Setelah mendirikan Soneta Group, di tahun 1973, Rhoma Irama mulai menyuarakan Voice of Moslem, dan total membawa pembaruan di musik dangdut. Tidak hanya dalam musik, Rhoma Irama pun membuat dangdut lebih berbeda dalam lirik, gaya panggung, aransemen musik dan lainnya. 

Di kala itu, ada beberapa lagu yang menjadi masterpiece dari Rhoma Irama dan Soneta Group, salah satunya Begadang, Darah Muda, Penasaran, Judi, Bujangan, Viva Dangdut, dan lagu dangdut lawas lainnya. Bahkan beberapa lagu dangdut tersebut hingga kini masih populer di Indonesia. 

Baca Juga : Penerjemah Bahasa Isyarat di Konser Musik 

Berkat kemampuannya meramu lagu dangdut dan musik dangdut, pria kelahiran Tasikmalaya, 11 Desember 1946 ini akhirnya diganjar dengan banyak penghargaan, baik dalam negeri maupun luar negeri, contohnya majalah Asia Week menempatkan Rhoma Irama sebagai Raja Musik Asia Tenggara di tahun 1985.

Selain itu, pada 23 Desember 2007, bersama Elvy Sukaesih, Rhoma Irama meraih penghargaan The South East Asia Superstar Legend di Singapura, menerima gelar Profesor Honoris Causa dalam bidang musik yang didapat dari 2 universitas berbeda di Amerika, dan bahkan lagu-lagunya pernah dibuat ke dalam Bahasa Jepang dan Inggris sehingga membawa lagu yang dinyanyikannya menjadi lagu dangdut terpopuler.


Interaksi Lagu Dangdut dengan Musik Lainnya


Jhonny IskandarSource Tribun
Jhonny Iskandar Penyanyi Dangdut Rock

Terlahir dari campuran berbagai gender, sejak era 70an, lagu dangdut sudah membuktikan ketangguhannya. Para musisi lagu dangdut terus berinovasi agar mampu bertahan dari gempuran musik-musik barat, terutama heavy metal dan rock n roll yang sedang mewabah.  Tidak hanya itu, dangdut bahkan berhasil menarik berbagai genre musik, dan memadukannya untuk menciptakan fenomena musik dangdut yang baru. Misalnya, fenomena musik gambus, dan qasidah yang perlahan mulai kental dengan nuansa dangdut, bahkan mulai bermuncul aliran lagu dangdut lainnya seperti musik dangdut pantura, musik dangdut koplo palapa, hingga musik dangdut remix. 

Tidak hanya itu, musik tradisional tarling dari Cirebon pun mulai membaur dengan dangdut. Pencampuran unik inilah yang kemudian memunculkan istilah tarlingdut, yang kemudian dikenal juga dengan istilah dangdut pesisir. 

Di akhir era 80an hingga 90an, musik rock di Indonesia semakin kuat. Bahkan berbagai genre musik, seperti grunge, trash metal, dan lainnya, makin disukai masyarakat, terutama kalangan anak muda yang memang lebih suka mengikuti gaya hidup ala kebarat-baratan. 

Menariknya, lagi-lagi lagu dangdut lawas maupun musik dangdut pantura, musik dangdut koplo palapa, hingga musik dangdut remix, semuanya berhasil membaur bagaikan bunglon di tengah gempuran genre musik lainnya, tanpa kehilangan unsur dangdutnya sendiri, (secara tidak resmi) genre rockdut hadir di Indonesia, yang merupakan campuran antara musik-musik rock dengan lagu dangdut populer.


Alam Mbah Dukun, Dangdut MetalSource Okezone
Alam, Penyanyi Dangdut Metal.

Beberapa lagu dangdut seperti Bukan Pengemis Cinta dari Jhonny Iskandar, Pangeran Dangdut dari Abiem Ngesti, dan berbagai lagu dangdut bernafaskan musik cadas lainnya terus bermunculan seperti musik dangdut pantura, musik dangdut koplo palapa, hingga musik dangdut remix. Terlebih ketika itu, lagu dangdut karya Rhoma Irama seperti Ghibah, berhasil diterima dengan baik di masyarakat. 

Pesona musik dangdut berirama kencang ini pun terus bergeliat dan seolah berjalan terpisah dengan musik dangdut itu sendiri. Bahkan di akhir 90an dan awal 2000an, muncul genre dangdut yang lebih berisik, dan disebut juga dengan genre dangdut metal. 

Endang Kurnia, Alam Mbah Dukun, hingga Nitha Thalia, merupakan penyanyi-penyanyi lagu dangdut yang terlahir dengan konsep musik dangdut metal. Kelak, dangdut pun akan berbaur dengan genre musik lainnya, termasuk reggae, ska, dan bahkan EDM atau dangdut remix. Demikian pula dengan musik-musik daerah seperti degung, jaipongan, tarling, keroncong, hingga langgam Jawa yang kemudian memunculkan genre musik campursari, dan zapin, merupakan bukti jika dangdut memang sangat mudah berbaur dengan unsur asing. 


Lagu Dangdut di Era Millenium


Electronic Dance MusicSource YouTube
Electronic Dance Music.

Di era millenium atau di tahun 2000an, rockdut dan dangdut metal memang cukup kuat. Tapi jangan lupa, di tahun ini pun musik dangdut terus berevolusi menghadirkan beragam kejutan, termasuk ramainya musik dangdut yang sebenarnya jauh dari unsur dangdut. 

Mari kita sebut saja Dangdut Remix, yang sebenarnya merupakan bagian dari Electronic Dance Music, tapi entah kenapa genre ini ditarik dan diakui sebagai bagian dari lagu dangdut. Apa karena beberapa orang yang kemudian memproduksi EDM dengan backing lagu-lagu dangdut populer di masa lalu?

Entahlah, tapi yang jelas irama dangdut ajep-ajep ini cukup populer di Indonesia, bahkan beberapa penyanyi lagu dangdut pendatang baru lebih memilih genre ini sebagai batu loncatan. Cukup bisa dimengerti, karena dalam genre musik dangdut, cengkok dangdut yang selama ini jadi ciri khas dangdut, seolah “dihilangkan”. Yang tidak kalah menghebohkan, di era 2000an pun ditandai dengan genre musik dangdut koplo, atau yang dikenal juga dengan dangdut jingkrak atau lagu dangdut lawas. Musik yang enerjik dan mengajak siapapun untuk asyik goyang, menjadi ciri khas dari musik dangdut ini. 

Dangdut Koplo sendiri dipromotori oleh kelompok-kelompok musik Jawa Timur, dan kemudian variasi atau cabang baru dari musik Dangdut ini semakin fenomenal, termasuk mampu masuk hingga ke Yogyakarta dan beberapa kota di Jawa Tengah lainnya.


Dangut Koplo muncul di era MilleniumSource Tempo.co
Dangut Koplo muncul di era Millenium

Salah satu alasan kenapa “virus” dangdut koplo ini mudah menyebar adalah, masifnya penyebaran VCD bajakan (kebanyakan aksi live panggung dan cover tidak resmi) yang menjadi lawan tangguh bagi VCD dan DVD original artis-artis nasional yang dinilai sangat mahal. Kesuksesan VCD bajakan tersebut dibarengi juga dengan fenomena “goyang ngebor” yang dibawa Inul Daratista. Setelah itu, goyangan-goyangan berbau erotis pun mulai muncul dan ramai dijadikan senjata bagi penyanyi-penyanyi baru, seperti Uut Permatasari, Dewi Persik dan lainnya. 

Fenomena goyangan heboh di kalangan penyanyi lagu dangdut bahkan sempat mematik perselisihan antara Rhoma Irama dengan Inul Daratista. Ketika itu, Inul Daratista dianggap “memalukan” musik dangdut karena tampil dengan goyangan erotis dan pakaian yang terlalu ketat untuk penyanyi lagu dangdut. 

Baca Juga : Makna Kehidupan Dalam Ragam Permainan Tradisional

Tapi faktanya, kecaman dan cekalan kepada Inul Daratista justru membuat nama penyanyi ini makin melambung. Bersama genre dangdut koplo, Inul bahkan berhasil tampil di banyak stasiun televisi, dan dari sinilah dangdut koplo tidak lagi dianggap sebagai dangdut underground.  

Nama-nama lain yang populer di era millenium sebagai imbas dari ramainya dangdut koplo dengan identitas goyangan unik adalah, Ayu Ting Ting yang terkenal dengan goyang mujair, Zaskia Gotik yang membawa goyang itik (gotik), Trio Macan, Siti Badriah, dan lainnya.


Ajang Pencarian Bakat Penyanyi Dangdut


Nassar Alumni KDI 1Source Merdeka.com
Nassar Alumni KDI 1

Selain lewat panggung dan masifnya penyebaran VCD bajakan, lagu dangdut pun mulai kembali ramai di era millenium berkat adanya ajang pencari bakat bagi penyanyi-penyanyi lagu dangdut muda, salah satunya adalah KDI atau (ketika itu) kepanjangan dari Kontes Dangdut TPI. 

Di tahun pertamanya, KDI berhasil mendapat sambutan hangat dari masyarakat Indonesia, terlebih talent-talent dangdut yang tampil dalam ajang ini telah melalui seleksi yang sangat ketat, sehingga penampilan mereka benar-benar layak disebut artis sesungguhnya. Di musim pertamanya, KDI berhasil memunculnya nama Siti Rahmawati sebagai jawara ajang pencarian bakat penyanyi lagu dangdut terpopuler. Ketika itu, penyanyi dangdut ini berhasil mengalahkan Nassar yang duduk di peringkat dua, dan Safarudin yang berhasil menempati posisi ketiga. 

Kesuksesan KDI rupanya telah mematik stasiun televisi lainnya untuk ikut mencari peruntungan dengan memunculkan talent-talent muda dangdut. Acara bertajuk Kondang In pun berhasil mengudara di tahun 2005 dan berhasil mencetak pedangdut mudah bernama Aries.

Baca Juga : Nyanyi di Kamar Mandi, Kenapa Selalu Lebih Merdu?

Sayang, acara tersebut kurang sukses di pasaran. Tidak lelah mencoba, Indosiar kembali muncul dengan program serupa, tapi dengan konsep yang sedikit berbeda. Dia adalah Stardut, yang mencoba mencetak pedangdut dari usia remaja. 

Ketika itu ajang Stardut cukup sukses di masyarakat, dan memunculkan nama penyanyi dangdut remaja bernama Decha. Karir Decha di dunia dangdut langsung melesat, bahkan berbagai undangan menyanyi di luar negeri berhasil dia dapatkan. Sayang, meskipun berhasil memunculkan nama Decha sebagai penyanyi lagu dangdut muda paling bersinar, tapi usia Stardut sendiri tidaklah lama. Acara ini masih kalah jauh oleh KDI yang terus kokoh sebagai ajang pencarian bakat penyanyi lagu dangdut terpopuler dan terbesar di Indonesia.


Decha Stardut Meninggal di Puncak PopularitasSource Liputan6
Decha Stardut Meninggal di Puncak Popularitas

Di sisi lain, Decha tidak lama menikmati kesuksesannya. Di Puncak karirnya, penyanyi lagu dangdut muda ini meninggal karena sakit di usianya yang baru menginjak 22 tahun. Di sisi lain, TPI yang masih punya KDI, mencoba memunculkan ajang pencarian bakat baru dengan konsep yang lebih unik. Bertajuk Dangdut Mania, ajang ini cukup mencuri perhatian masyarakat Indonesia, terlebih talent-talent dan konsep yang ditampilkan terbilang unik. 

Sayang, setelah itu ajang pencarian bakat dangdut justru mulai meredup. Hingga akhirnya di tahun 2014, Indosiar mencoba mencuri start dengan memunculkan ajang pencarian bakat penyanyi dangdut bertajuk D'Academy. Tanpa diduga, acara ini sukses besar dan melahirkan penyanyi dangdut. Bahkan ajang ini terus diulang per tahunnya, dengan tambahan ajang pencarian bakat lainnya, seperti Bintang Pantura, bahkan jangkauannya diperluas lagi dengan hadirnya D'Academy Asia. 

Dengan adanya ajang pencarian bakat ini, banyak penyanyi muda mulai bermunculan. Beberapa memang tidak terlalu bersinar di dunia entertainment, tapi beberapa lagi berhasil dan hingga kini masih terus eksis dengan berbagai talenta yang dimilikinya. 


Fenomena Via Vallen dan Nella Kharisma


Via Vallen dan Nella KharismaSource Tribunnews
Via Vallen dan Nella Kharisma

Dangdut di era millenium memang penuh warna. Selain perkembangan dangdut di televisi dan radio, masyarakat pun mulai eksis mengamati fenomena dangdut di sosial media. Menariknya, ada dua nama yang cukup populer di sosial media, yakni Nella Kharisma dan Via Vallen.  Terlahir dari panggung ke panggung dengan mengusung dangdut koplo, Nella Kharisma dan Via Vallen cukup mendapat perhatian dari netizen, bukan hanya karena lagu-lagu dan suaranya yang sangat merdu, tapi juga karena parasnya yang sangat cantik. 

Meskipun keduanya sama-sama berasal dari Jawa Timur, keduanya punya basis penggemar yang berbeda dan sama-sama cukup agresif. Mereka saling serang dan saling klaim paling unggul, bahkan perseteruan mereka tidak kalah dengan panasnya perseteruan cebong vs kampret.  Tanpa mengesampingkan kemampuan bernyanyi mereka, perseteruan ini cukup ampuh membuat nama penyanyi muda ini melambung. Menariknya, popularitas yang didapat mereka semuanya berasal dari sosial media, baik YouTube dan Instagram, bukan dari televisi. 

Andri Arianto, Sosiolog Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, menyebut jika  fenomena Via Vallen dan Nella Kharisma merupakan berkah tersendiri bagi masyarakat karena keduanya mampu menyajikan hiburan ringan dan mudah diakses di tengah peliknya politik Indonesia. 


Via Vallen dan Nella KharismaSource YouTube
Via Vallen dan Nella Kharisma

Tidak aneh jika anak-anak dan remaja, cukup lantang menyanyikan lagu-lagu mereka, baik saat nongkrong di pinggir jalan, atau saat bermain. Hal ini pun menjadi pertanda jika dangdut bukan hanya musik orang tua, tapi juga bisa dinikmati oleh anak-anak, remaja hingga anak muda.  Positifnya, kedua penyanyi lagu dangdut ini pun jauh dari kesan lagu dangdut koplo yang (masih) dianggap vulgar karena pakaian dan goyangan yang mendekati unsur erotis. Keduanya pun mampu mengikuti perkembangan zaman dengan riasan dan penyebaran konten berbasis sosial media. 

Selain itu, mereka berhasil muncul ke publik tanpa sensasi, tanpa kabar miring dan drama-drama nggak penting khas penyanyi pendatang baru. Dengan kata lain, mereka berhasil memulai karir keartisan di dunia dangdut dengan cara yang positif.  Sedangkan untuk masalah perselisihan basis penggemar fanatik, hal ini cukup lumrah dan memang sangat sulit dikendalikan. Selama tidak berujung pada kontak fisik, dan perselisihan yang mengarah ke bullying, hal ini positif-positif saja dilakukan. 

Baca Juga : Beralih Profesi Jadi Youtuber, Benarkah Bisa Bikin Cepat Kaya?

Baik Via Vallen ataupun Nella Kharisma, keduanya berhubungan baik. Bahkan keduanya sempat bernyanyi dalam satu panggung di alun-alun Karanganyar. Bahkan ketika itu, Bupati Karanganyar Juliyatmono, turut hadir dan menjadi pendamping mereka di atas panggung.

Kesimpulannya, dangdut merupakan musik khas Indonesia yang sangat tangguh dan mampu berbaur, terbuka dengan berbagai jenis musik yang datang ke Indonesia. Tiap era selalu ada konsep baru yang diusung, meskipun begitu semuanya tetap kembali kepada konsep awal dangdut sebagai musik rakyat. 

Konsep musik dangdut ini sejalan dengan konsep hidup kebanyakan masyarakat Indonesia yang terbuka dengan siapa saja, mampu berbaur, tanpa merupakan adat budaya dan jati diri bangsa Indonesia. Selamat menikmati musik rakyat, yaitu musik dangdut yang kian terpopuler!