CFD, Ajang Olahraga atau Berburu Kuliner Dan Belanja Kaki Lima?

Feb 12, 2019 8:45 AM

Car Free Day atau biasa kita sebut CFD sudah menjamur diberbagai bagian kawasan Indonesia. Kalau dulu baru dinikmati masyarakat Jakarta di sekitaran Thamrin-Sudirman, maka kini sudah menyebar hingga berbagai kota.

Bahkan, beberapa daerah seperti, Bandung dan Yogyakarta juga memiliki Car Free Night (CFN). Biasanya, CFN digelar pada malam minggunya. Cocok buat ajang millenial mencari makan, ngajak pacar malam mingguan hingga jomblo melirik peluang cari jodoh.

Konsep CFN rasanya memang pas, dan sah-sah saja untuk hangout dan berburu makanan. Lalu, bagaimana dengan CFD? Melansir laman carfreedayindonesia, kegiatan ini awalnya bertujuan untuk mengurangi pencemaran udara di kota-kota besar, yang disebabkan oleh kendaraan. Jika di Indonesia baru menjadi tren beberapa tahun belakangan, ternyata Belanda sudah 62 tahun menjalankan konsep CFD dari 25 November 1956. 

Konsep CFD dilaksanakan di hari minggu, karena memang penutupan akses jalan raya tidak akan mudah, jika dilakukan pada hari kerja. Sedangkan Indonesia, pertama kali menggelar CFD di tahun 2001. Lalu, mulai berjalan lebih efektif di tahun September 2004 dan dimeriahkan berbagai perlombaan dan variety show

Pelaksaan CFD sekarang tidak kalah meriah. Hari bebas kendaraan, banyak diasumsikan orang-orang sebagai ajang untuk berolahraga. Makanya, saat di CFD kita banyak melihat orang melakukan olahraga lari, bersepeda, dan aktivitas fisik lainnya. Dan nikmatnya, kita tidak perlu takut kendaraan lalu lalang. Salah satu yang khas dari pelaksanaan CFD adalah senam sehat atau aerobik, diiringi musik yang menggelegar di sepanjang arena CFD. 

Namun, belakangan sepertinya tujuan digelanya CFD makin bergeser. Konsep fun run, fun walk dan fun bike jadi ajang mejeng dan belanja. Bahkan, kadang ada yang memanfaatkan CFD sebagai ajang promosi dan launching sebuah komunitas. 

Hal itu bisa dilihat dari CFD Jakarta, dan beberapa kota sekitar. Saat pelaksanaan hari bebas kendaraan, malah lebih banyak penjual ketimbang orang-orang yang berolahraga. Sepanjang jalan Thamrin banyak berderet penjual seperti baju, jilbab, kaus kaki, cilok, cilor, thai tea hingga, bakso dan ketoprak. Wah, bukannya mengurangi berat badan, ini sih malah makin nambah ya sepulang dari CFD.

Bisa dibilang, ajang CFD semacam pasar kaget itu untuk para pedagang kaki 5. Pelapak yang ada di pasar, berpindah tempat sejenak untuk mengais rezeki dari pukul 06.00 - 11.00. Lumayan kan, memanfaatkan 5 jam menggaet pelanggan yang kelaparan dan kehausan.

Tapi, balik lagi ke pilihan masing-masing. Mau memanfaatkan CFD untuk olahraga dan sekadar jalan-jalan bareng keluarga dan tetangga atau ikutan senam bersama ibu-ibu? hehehe.

(sa)