Cegah Penyebaran Hoax, Alasan Utama Pemerintah Batasi Medsos Untuk Tanggal 22 Mei

May 23, 2019 3:50 AM

Media sosial menjadi salah satu hal penting dalam kehidupan sehari-hari. Di zaman yang sudah modern saat ini, rasanya hampir setiap hari kita selalu mencari dan menggali informasi dari berbagai macam platform media sosial. Dengan fitur dan kemudahan yang disediakan, segala informasi dari penjuru dunia manapun dapat diketahui dalam hitungan detik saja. Namun, segala sesuatu tentu memiliki sisi positif dan sisi negatif. Begitupun dengan media sosial, banyak sekali penyalahgunaan yang menyebabkan hal-hal tidak diinginkan pada kalangan masyarakat.

Salah satu hal negatif yang dapat ditimbulkan dari maraknya media sosial adalah penyebaran hoax atau berita palsu. Untuk mencegah hal ini terjadi, maka pemerintah akhirnya melakukan pembatasan media sosial khusus untuk tanggal 22 Mei 2019. Nah, infia.co akan berusaha mengulas lebih dalam mengapa tindakan yang tidak biasa ini dilakukan oleh pemerintah. Yuk simak!


Apa Yang Terjadi Pada Tanggal 22 Mei 2019?


kerusuhanSource : metro.tempo.co
Kerusuhan 22 Mei 2019.

Pada tanggal tersebut, sejumlah massa memang sudah merencanakan aksi unjuk rasa untuk memberi protes terhadap hasil resmi rekapitulasi pemilihan umum 2019. Namun sayang, aksi unjuk rasa yang diharapkan berjalan dengan damai justru harus berakhir dengan kisruh. Beberapa oknum tidak bertanggung jawab memulai aksi kriminal dengan melempari petugas yang berjaga dengan batu maupun benda-benda keras lainnya. Hal ini lantas memicu kericuhan yang membuat situasi dan kondisi di ibukota menjadi tidak kondusif.

Lantas, Apa Hubungannya Dengan Pembatasan Media Sosial?


media sosialSource : tek.id
Pembatasan Media Sosial.

Seperti yang diketahui, media sosial adalah sarana termudah untuk memperoleh berita terbaru saat ini dalam waktu singkat dan cepat. Tidak heran, banyak orang menggunakan media sosial untuk melaporkan segala sesuatu yang terjadi di sekitar mereka. Dengan bermodalkan gadget dan koneksi internet, sebuah informasi dalam menyebar secara luas dan mempengaruhi semua khalayak yang menerimanya.

Dengan kemudahan penyebaran informasi tersebut, tentu orang-orang juga dapat menyalahgunakan media sosial untuk menyebarkan berita palsu atau yang akrab dengan sebutan hoax. Mereka dapat saja memberi laporan yang justru memancing emosi dari orang banyak dan semakin membuat situasi menjadi kacau balau. Oleh karena itu, pihak pemerintah memutuskan untuk membatasi kegiatan media sosial sehingga meminilisir kericuhan yang makin buruk di kemudian hari.

Beberapa media sosial seperti Whatsapp, Line, Facebook, Twitter, dan Instagram mengalami jaringan down sehingga sulit diakses oleh penggunanya. Hal ini sempat menuai banyak protes dari orang-orang karena mereka tidak bisa melakukan pencarian informasi seperti biasanya. Selain itu, kegiatan bercakap-cakap mereka dengan orang lain juga menjadi terbatas dan tidak bisa berjalan dengan normal.

Namun, sejauh ini usaha dari pemerintah tersebut rupanya berbuah hasil yang cukup manis. Tidak ada penyebaran berita palsu atau hoax yang justru memprovokasi kericuhan yang makin parah. Sebagian besar orang-orang lantas mengalihkan perhatian mereka kepada sarana televisi untuk mencari informasi terbaru mengenai kondisi yang terjadi di ibukota. Meskipun sempat mendapat tanggapan negatif sebelumnya, tindakan ini dapat tergolong berhasil untuk menyaring serta mengurangi resiko penyebaran berita palsu yang dapat berdampak buruk untuk semua orang.


Komentar dari Menteri Kominfo


menteri kominfoSource : m.katadata.co.id
Rudiantara (Menteri Kominfo)

Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yaitu Rudiantara lantas mengambil tindakan cepat untuk mengklarifikasi pembatasan media sosial dari pemerintah ini. Rudiantara membenarkan jika pihaknya melakukan pembatasan dengan sifat sementara agar mencegah tindakan penyebaran hoax terjadi di masyarakat. Ia juga terpaksa mengambil tindakan ini demi keamanan negara Indonesia yang tidak kondusif pasca pengumuman hasil pemilu.

"Memang ada pembatasan, tapi bersifat sementara dan bertahap. Pembatasan terhadap paltform media sosial dan fitur-fitur media sosial," ucap Rudiantara saat diwawancara.

Ia berjanji akan segera mengakhiri pembatasan ini secara bertahap jika memang kondisi sudah baik dan tenang. Untuk saat ini, ia hanya berfokus untuk menjaga ketenangan dan tidak ingin mencari resiko untuk membuat media sosial sebagai sarana provokasi tindakan kericuhan lanjutan.