Cara Canggih IKEA Hipnotis Pembeli untuk Konsumtif

Feb 24, 2019 3:56 PM


Sumber foto: Pixabay

Pernah merasa mendadak boros saat pergi ke minimarket, pusat perbelanjaan atau toko retail macam IKEA? Padahal tadinya, semua yang hendak dibeli sudah tercatat dalam daftar barang belanjaan. Kok nambah jadi pengen beli ini-itu, ya?

Mungkin kita saja yang boros. Tapi bisa juga, kita secara tidak sadar telah masuk dalam "perangkap" yang telah dipersiapkan oleh toko tersebut.

Penelitian memperkirakan bahwa 50% pembelian yang dilakukan konsumen tidak terencana. Hal ini lah yang dimanfaatkan oleh perusahaan retail untuk menangguk keuntungan.

Nah, salah satu cara untuk memanfaatkannya adalah melalui arsitektur atau penataan toko. Pernah belanja ke mall lalu di pojokan ada kafe, di sudut lain ada cinderamata, di tengah ada ini -itu, dan lain sebagainya kan? Semua itu bukan kebetulan.

Adalah Victor Gruen, seorang arsitek abad 20 yang jadi biang keladi pertama kali. Sosok yang mempelopori pembangunan mall di Amerika Serikat ini memanfaatkan cahaya dan ruang untuk menampilkan barang-barang di kaca depan toko. Rancangannya bermaksud untuk menarik perhatian orang yang berlalu lalang lalu mengkonversi mereka menjadi pembeli. Konversi ini kemudian dikenal dengan nama "Efek Gruen."

Dan IKEA, perusahaan retail asal Swedia yang identik dengan furniturenya ini mungkin telah sangat menguasai Efek Gruen.

"Hampir 20% keputusan pembelian (pengunjung) kami berdasarkan logika dan kebutuhan. (Sedangkan) 80% keputusan pembelian (pengunjung) kami sebenarnya berdasarkan emosi/perasaan," kata Richard La Graauw, Creative Director IKEA Amerika Serikat, dalam video How IKEA gets you to impulsively buy more.

"Dan kami berusaha menjembatani hal tersebut. Tentu saja karena kami retail, kami berusaha, kau tahu, supaya (pengunjung) mengambil satu atau dua barang," lanjut dia.

Ada berbagai cara dalam menata toko mulai dari desain ruang, penataan barang hingga pencahayaan. Dalam peta penataan tokonya, salah satu yang IKEA lakukan adalah dengan memakai pola atau jalur yang rapi, melewati barang-barang yang dipajang. Hal ini menyebabkan pengunjung lebih banyak berjalan untuk mengeksplorasi isi toko. Jadi semakin banyak kita berjalan, akan lebih banyak pula barang yang terekspos kepada calon pembeli.

Tapi apa yang dilakukan IKEA tak sekedar mengikuti apa yang Victor Gruen atau para visual merchandiser kerjakan. IKEA juga menggunakan teknologi canggih, memanfaatkan teknologi Beacon terinstall dalam toko mereka.

"Kami menggunakan teknologi untuk mengukur alur konsumen dan di mana mereka tertarik, dan area mana mereka cenderung hampiri. Dan semua itu menggunakan teknologi Beacon," Richard La Graauw menambahkan.

Apa itu Beacon? Diwartakan Techinasia, peralatan Beacon yang dipasang di toko retail menggunakan bluetooth yang dipancarkan ke ke gadget para pengunjung. Fungsinya, seperti dikatakan Richard La Graauw tadi.

Keren ya? Jadi saat hendak belanja, kalau kamu sedang bokek lebih baik ingat Efek Gruen.

(hrd/ruw)