Telur Burung Ternyata Bisa Berkomunikasi Dengan Sesamanya Sejak Belum Menetas? Ini Jawabannyanya!

Aug 19, 2019 10:30 AM

Banyak yang mengira jika telur burung memiliki perilaku seperti telur pada umumnya yang hanya bergerak-gerak ketika ingin menetas. Secara kasat mata, itu memang benar adanya. Namun, setelah diteliti ternyata ada satu hal menarik dari perilaku yang ditunjukkan oleh embrio dari bayi burung yang masih berada di dalam cangkang telur.

Sebelumnya terungkap fakta jika embrio atau bayi burung yang masih berada di dalam telur bisa mendengar panggilan atau kicauan dari burung dewasa, kini ada fakta baru yang menujukkan bahwa embrio burung dapat berbagi informasi kepada saudara dan saudari mereka yang masih belum menetas di sarang yang sama.

Baca Juga: Burung Tidak Tersetrum Saat Bertengger di Atas Kawat Listrik, Ini Penjelasannya


Telur burung camar berkaki kuning (Larus michaellis)Source: Science Alert
Telur burung camar berkaki kuning (Larus michaellis)

Dengan melakukan sejumlah eksperimen yang dilakukan oleh Jose Noguera dan Alberto Velando yang merupakan peneliti untuk kasus ini, mereka mengambil beberapa butir telur burung camar berkaki kuning (Larus michaellis) dari Pulau Salvora, Spanyol dan memisahkan beberapa butir telur ke dalam beberapa kelompok untuk diteliti seberapa peka telur tersebut ketika mendengar suara-suara predator mereka.

Dibagi dua kelompok yang dipecah menjadi enam grup, kelompok telur yang diberi nama grup eksperimen dimasukkan ke dalam sebuah kotak kedap suara dan kemudian para peneliti memutarkan suara dari predator alami burung tersebut. Sedangkan kelompok lainnya yang bernama grup kontrol tetap dimasukkan ke dalam kotak kedap suara, namun tidak diberikan pancingan suara sama sekali.


telur burung camar berkaki kuningSource: Nature Ecology & Evolution
Kelompok telur burung camar berkaki kuning

Kemudian para peneliti menemukan bahwa telur yang terpapar bunyi predator lebih sering bergetar di dalam inkubator daripada telur-telur dari grup kontrol. Mereka juga butuh waktu lebih lama untuk menetas daripada telur-telur grup kontrol.

Menariknya, usai menetas burung-burung camar berkaki kuning yang masuk ke dalam grup eksperimen menunjukkan perbedaan perkembangan dari burung-burung di grup kontrol. Mereka lebih pendiam dan lebih sering merunduk yang merupakan sebuah perilaku defensif yang biasa digunakan oleh burung laut ketika mendapat peringatan akan adanya predator. 

Hal itu terjadi karena efek dari bunyi suara predator yang diputar para peneliti untuk kelompok telur saat masih belum menetas.

Baca Juga: Kenapa Burung Beo Bisa Ngomong Tapi Monyet Tidak?


burung camar berkaki kuningSource: Dejalme Vargas
Burung camar berkaki kuning

Pada faktor fisiologis pun, para peneliti menemukan burung-burung dari grup eksperimen memiliki tingkat hormon stres yang lebih tinggi, lebih sedikit DNA mitokondria per sel dan memiliki kaki yang lebih pendek. 

Pada intinya, burung-burung dari grup eksperimen lebih pandai merespons bahaya daripada grup kontrol, tetapi kapasistas sel untuk memproduksi energi dan pertumbuhannya berkurang. Para peneliti pun mengonklusikan bahwa bayi burung bisa berkomunikasi satu sama lain dari dalam telur untuk menyampaikan informasi predator menggunakan getaran.

“Hasil ini menunjukkan dengan sangat kuat bahwa embrio burung laut bisa mendapatkan informasi lingkungan yang relevan dari saudara-saudara mereka,” tulis para peneliti yang dikutip dari Nature Ecology & Evolution dan Sains Kompas, "bersama-sama, hasil kami menunjukkan pentingnya informasi yang didapat secara sosial pada tahap prenatal sebagai mekanisme non-genetik yang mendorong perubahan perkembangan permanen,” tambahnya.

Baca Juga: Sempat Punah 136 Ribu Tahun Lalu, Spesies Burung Ini Kembali Ditemukan Hidup di Afrika Timur

Dengan hasil ini, kita pun mulai mengetahui bagaimana para telur burung melakukan interaksi dan komunikasi dengan sesama telur burung lainnya dalam satu tempat. Dengan kata lain sejak belum menetas pun burung sudah bisa berinteraksi dengan satu sama lainnya.