Bisakah Kita Bahagia Tanpa Internet?

Mar 17, 2019 3:00 AM

Banyak yang bilang internet--tepatnya media sosial, bikin yang jauh jadi dekat, dan yang dekat jadi menjauh.

Sampai-sampai, sebagian orang memutuskan untuk puasa dari semua itu supaya sembuh dari kecanduan online nya dan lebih dekat dengan kehidupan nyata. Contohnya selebriti Sarah Sechan beberapa waktu lalu.

Band rock Inggris Placebo juga sampai bikin lagu. Judulnya Too Many Friends, yang menyindir persona kita di media sosial yang nampak bahagia dan punya teman banyak di dunia maya namun kesepian pada kenyataannya.


Lalu apakah bila internet tidak ada maka umat manusia akan lebih baik? Coba bayangkan bila suatu hari, seluruh internet di dunia tiba-tiba mati total.

Menurut video What If the Internet Stopped Working, sebenarnya dunia tidak akan runtuh begitu saja. Setidaknya 4 miliar manusia di muka bumi belum bisa menikmati internet. Jadi, separuh umat manusia yang tinggal di planet bini tidak akan merasakan perbedaanya.


Beda hal dengan separuh lainnya, termasuk kita-kita ini. Internet lemot sedikit saja pastinya sudah bikin naik darah. Belum lagi para fakir kuota yang mungkin bakalan tambah menderita akibat tak ada lagi wifi gratis yang bisa diburu.

Tapi pertanyaannya, apakah ketiadaan internet semata menghalangi kita untuk narsis di Instagram hingga menghentikan penyebaran hoax dan fake news? Apakah kita jadi lebih bahagia tanpa kebencian yang seolah merajalela di dunia maya?

Tanpa internet, para pengguna media sosial mungkin akan menggunakan jaringan telpon biasa untuk berkomunikasi. Kita juga akan lebih banyak mengobrol dengan teman-teman, alih-alih menatap layar smartphone saat bersua di coffee shop. Silahturahmi pun akan lebih terjalin. Keakraban akan jauh terasa.

Sumber foto: PixabaySumber foto: Pixabay

Di sisi lain, rasanya akan banyak hal buruk yang pasti terjadi. Yang jelas jadwal gajian kebanyakan dari kita akan terganggu. Tanpa koneksi internet, maka transfer perbankan tidak bisa dilakukan. Akibatnya, mungkin kita harus repot mengantri mengambil gaji dalam bentuk tunai. Itu pun kalau perusahaannya tidak mengandalkan koneksi internet dalam mencari berbisnis. Bagaimana dengan yang bekerja di perusahaan e-commerce hingga media online?

Perusahaan-perusahaan seperti Google, Tokopedia, BukaLapak dan lain sebagainya pasti akan kolaps dan tak terhitung jumlahnya orang kehilangan mata pencarian dan jadi pengangguran.

Menyeramkan, ya?

Tapi tenang, internet bukan sistem yang bergantung pada satu jaringan saja. Melainkan, banyak sekali jaringan yang terhubung. Jika satu mati, jaringan lain nya akan terus beroperasi. Tidak mungkin  pula jaringan mati tadi tidak akan diperbaiki.

Jadi apakah ketiadaan internet baik untuk kita? Well, semua yang berlebihan itu tidak baik. Yang terpenting adalah pengendalian diri.

Gunakan internet dengan bijak. Ibaratnya api, bila digunakan dengan benar bisa memanaskan air, namun bila teledor bisa mengakibatkan kebakaran.

Setuju?

(ruw)