Bisakah Bermain Instagram Membuat Depresi?

Mar 4, 2019 8:29 AM

Beberapa orang sedang asik bermain sosial media
sumber foto: Shutterstock

Dari sekian banyak sosial media yang ada saat ini, Instagram menjadi sosial media yang paling disukai. Berbagai fitur menarik ditawarkan Instagram demi menunjang kebutuhan penggunanya. Mulai dari mengambil, mengunggah foto dan video sampai layanan jejaring sosial seperti jualan. 

Pada dasarnya seseorang menghabiskan seperempat harinya untuk berselancar di sosial media, sehingga sangat tidak bisa dipungkiri betapa besarnya pengaruh sosial media dalam kehidupan. Sejak kemunculannya di tahun 2010, Instagram konsisten menjadi media yang mengambil dan meyimpan foto seperti, kamera polaroid atau foto instan. Terdapat 15 efek foto yang bisa dinikmati para pengguna, diantaranya X-Pro II, Lomo-fi, Earlybird, Sutro, Toaster, Brannan, Inkwell, Walden, Hefe, Apollo, Poprockeet, Nashville, Gotham, 1977, dan Lord Kelvin,  Valencia, Amaro, Rise, Hudson. 

Saking mudahnya akses dalam pembuatan akun Instagram, tidak heran kalau seseorang memiliki akun Instagram lebih dari satu. Hal inilah yang membuat sebuah stigma baru dalam sosial media, khususnya Instagram. Sejumlah pakar menilai bahwa, kehadiran Instagram saat ini membawa permasalahan dalam kehidupan seseorang. 

Royal Society Health Inggris melakukan penelitian singkat mengenai Instagram sebagai platform sosial media yang menyebabkan anak muda merasa sedih, mudah depresi, cemas dan kesepian bila dibandingkan dengan sosial media lainnya seperti, Facebook, Path, Twitter, Youtube, WhatsApp dan lainnya. 

Banyak anak muda yang mengaku, ketika bermain Instagram ada rasa khawatir karena tidak bisa berada di posisi orang lain atau pengguna yang lain. Tanpa disadari seseorang akan merasa harga dirinya mengalami penurunan sehingga berdampak ke segala aspek termasuk kehiudpan nyata. Bila melihat kenyataan dan kondisi yang terjadi saat ini, Instagram justru menjadi ruang sharing dalam artian negatif alias pamer. 

Media yang seharusnya menjadi ruang sharing hal positif berubah menjdi kesenggangan kehidupan sosial antar sesama. Berlomba-lomba untuk menunjukan standar kehidupan yang layak, yakni kebahagiaan, kecukupan dan kebersamaan. Ekpresi diri yang terlalu berlebihan akan mengundang gangguan psikologis bagi pengguna lainnya, yang tidak sanggup mencapai posisi yang sama. 

Oleh sebab itu, instagram bekerja dengan sederet ahli untuk mengembalikan tujuan awal Instagram untuk menjadi aplikasi yang dapat memberikan dukungan dan kenyamanan bagi setiap pengguna. Bukan hanya bisa mencapai kebahagian dan kepuasan, melainkan memperbaiki mental anak muda pemilik akun Instagram. 

(hrd/sna)