Basuki Tjahja Purnama, Kandidat Kuat Komisaris Utama Pertamina

Nov 14, 2019 10:12 AM

Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dipastikan akan menjadi petinggi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kehadiran Ahok di Kementerian BUMN bertemu dengan sang menteri, Erick Thohir pada Rabu (13/11) diakui sendiri oleh Ahok bahwa dirinya diminta untuk memimpin salah satu BUMN. “Saya cuma diajak untuk masuk di salah satu BUMN. Kalau untuk bangsa dan negara saya pasti bersedia,” ucap Ahok kepada rekan-rekan media usai pertemuan. Pertemuan tersebut berlangsung satu setengah jam, sejak pukul 09.38 WIB hingga pukul 10.50 WIB, tentu waktu yang kiranya cukup bagi Erick untuk sedikit berdiskusi soal perusahaan BUMN dan menyampaikan alasan penunjukkan Ahok.

Kabar tersebut jelas membahagiakan para penggemar Ahok, tak sabar menanti ketegasan dan ucapan ceplas-ceplos Ahok sebagaimana ketika ia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sejak kemarin, publik khususnya warga net saling tebak, BUMN manakah yang kiranya akan dipimpin Ahok sampai-sampai jagat twitter ramai dengan tagar Ahok. Ada yang menebak PLN, Mandiri, BNI, hingga Pertamina. Arah kembalinya Ahok semakin cerah, karena Erick Thohir sudah buka suara bahwa Ahok akan menjadi petinggi perusahaan plat merah bidang energi. Dari deretan perusahaan BUMN yang disebut-sebut oleh netizen, PT Pertamina (Persero) yang paling nyaring menjadi tempat baru kembalinya Ahok dalam lingkup terdekat pemerintahan. Tanpa harus menunggu lama, akhir bulan November ini, Ahok diduga kuat akan mulai menduduki kursi komisaris Pertamina menggantikan Tanri Abeng. 

Berlatar Belakang Ahli Geologi, Pebisnis, dan Politisi

Profil Ahok lengkap dengan rekam jejaknya tentu tercatat dalam catatan Wikipedia. Jika ingin tahu secara lebih rinci, laman situs ahok.org memuat banyak informasi beserta agenda hariannya, bisa dibilang situs itu juga seperti buku diary Ahok. Latar belakang pendidikan Ahok adalah Teknik Geologi Universitas Trisakti (insinyur geologi) 1989. Setelah itu Ahok kembali ke kampung halamannya di desa Laskar Pelangi, Belitung Timur untuk mendirikan perusahaan CV Panda yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan PT Timah. 


Source: grid.id
Ahok memiliki latar belakang ahli geologi, pebisnis hingga politisi.

Dua tahun kemudian Ahok melanjutkan pendidikan master di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya Jakarta dengan mengantongi gelar Master in Business Administrasi (MBA). Bekal baru ini membawa Ahok masuk pada PT Simaxindo Primadaya Jakarta yang bergerak di bidang kontraktor pembangunan pembangkit listrik sebagai staf direksi bidang analisa biaya dan keuangan proyek. Tahun 1992, Ahok mendirikan PT Nurindra Ekapersada sebagai persiapan awalnya mendirikan pabrik Gravel Pack Sand dengan harapan mampu berkontribusi  bagi pendapatan asli Belitung Timur dengan memberdayakan sumber daya mineral yang terbatas. 

Tahun 2003, adalah waktu yang mengubah hidup Ahok, kiprah politiknya dimulai. Mengawali sebagai anggota DPRD Belitung Timur, karir politik Ahok terus maju hingga akhirnya terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta menggantikan Joko Widodo yang maju dan terpilih sebagai Presiden RI 2014-2019. Catatan lain, Majalah Tempo (2006), menobatkan Ahok sebagai salah satu dari sepuluh tokoh yang mengubah Indonesia.


Dari MUI hingga Alumni 212, Bagimana Respon Mereka, Ya?

Melansir CNN Indonesia, Penjukkan Ahok sebagai petinggi salah satu BUMN bahkan tidak dipermasalahkan oleh Majelis Ulama Indonesia. Padahal, MUI sendiri yang mengeluarkan fatwa bahwa Ahok terbukti melakukan penistaan agama. Sekjen MUI Indonesia Anwar Abbas menjelaskan bahwa terpilihnya Ahok sebagai komisaris BUMN bukan masalah karena Ahok telah menjalani masa hukumannya. “Kalau Ahok menista agama itu sudah jelas. Tapi dia kan sudah dihukum. Kecuali kalau nanti dia menista agama lagi,” ucap Anwar Abbas

Sedangkan Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif menyayangkan kebijakan itu. Rekam jejak Ahok atas kasus penistaan agama kembali diungkit. “Apa di Indonesia enggak ada lagi orang yang track record-nya baik, sopan, tidak kasar, tidak terindikasi korupsi?,” ucap Slamet.  

Tidak sedikit persepsi publik yang mengatakan, apabila Ahok memimpin Pertamina, akan berimbas baik untuk memberantas mafia migas.