Bakteriofag, Si Virus yang Ramah Pada Tubuh Manusia

Oct 4, 2019 4:00 AM

Hingga sekarang virus seringkali mendapat konotasi negatif sebagai biang kerok adanya penyakit di tubuh manusia karena sifatnya yang agresif dan mudah menular. Sebagian besar virus memiliki hubungan patogenik dengan inang mereka - yang berarti mereka menyebabkan penyakit mulai dari flu ringan hingga kondisi serius seperti sindrom pernafasan akut akut (SARS).

Virus sendiri secara umum memiliki sifat kerja yang menyerang sel inang, mengambil alih tempat sel dan melepaskan partikel virus baru yang terus menginfeksi lebih banyak sel dan menyebabkan penyakit. Maka dari itu konotasi negatif terhadap virus melekat hingga saat ini.

Di antara berbagai anggapan jahat terhadap virus manusia, ada pula virus yang ternyata "baik" untuk tubuh manusia. Virus tersebut dianggap mampu melawan bakteri jahat atau patogen yang menyerang tubuh dan beberapa lainnya justru mampu membunuh virus jahat lainnya. Virus tersebut kemudian dinamakan sebagai Bacteriophages atau Bakteriofag.

Baca Juga: Memahami Lebih Dalam Mengenai Perbedaan Virus dan Bakteri

Bakteriofag sendiri ditemukan pada 1915 oleh ilmuwan Inggris bernama Frederick Twort, lalu seorang peneliti mikrobiologis dari Perancis yang bernama Felix d'Herelle menemukan sebuah virus yang berfungsi untuk membunuh virus atau bakteri penyebab penyakit Disentri tahun 1917. Kemudian dua nama tersebut menjadi pelopor ditemukannya virus bakteriofag.


https://id.wikipedia.org/wiki/BakteriofagSource: wikipedia
Virus bakteriofag

Kinerja dari Bakteriofag sendiri seperti bakteri baik, yaitu melindungi organ tubuh kita dari ancaman virus atau bakteri jahat. Sejauh ini beberapa bakteriofag terdapat di lapisan selaput lendir organ pencernaan, pernafasan hingga reproduksi. Menurut penelitian, virus baik yang ada di bagian lendir tersebut adalah bagian dari sistem kekebalan alami tubuh yang melindungi dari bakteri penyakit.

Sumber dari bakteriofag untuk terapi diambil dari air, kotoran, udara, limbah dan bahkan cairan tubuh dari pasien yang terinfeksi. Virus yang terdapat disana kemudian diisolasi dari sumber-sumber ini, kemudian dimurnikan dan hasilnya digunakan untuk pengobatan. Lalu penggunaan bakteriofag sendiri dalam pengobatan sekarang mampu menarik minat tersendiri karena mampu sembuhkan infeksi yang kebal terhadap obat biasa.

Baca Juga: 5 Bakteri Ini Ternyata Dapat Lindungi Kulit dari Infeksi. Kok Bisa?

Beberapa virus yang termasuk bakteriofag terbukti mampu membantu memerangi virus atau bakteri jahat yang menjadi penyebab penyakit. Salah satunya adalah Pegivirus C atau GBV-C yang diinfeksikan ke tubuh manusia tapi tak menimbulkan dampak apa-apa terhadap tubuh. Konon menurut penelitian, pengidap HIV ketika terinfeksi virus GBV-C mampu bertahan hidup lebih lama dibanding yang tidak terinfeksi.


Pegivirus C, salah satu bakteriofag yang ada mampu membuat penderita HIV mampu bertahan hidup lebih lama.Source: honestdocs.id
Pegivirus C

Virus tersebut memperlambat perkembangan penyakit dengan memblokir reseptor inang yang diperlukan untuk masuknya virus ke dalam sel, dan mendorong pelepasan interferon dan sitokin pendeteksi virus (protein yang diproduksi oleh sel darah putih yang mengaktifkan peradangan dan pengangkatan sel atau patogen yang terinfeksi).

Dalam contoh lain, norovirus diperlihatkan untuk melindungi usus tikus ketika mereka diberi antibiotik. Bakteri pelindung usus yang terbunuh oleh antibiotik membuat tikus rentan terhadap infeksi usus. Tetapi dengan tidak adanya bakteri baik, norovirus ini mampu melindungi inang mereka.

Baca Juga: Menempatkan Bawang Merah di Sudut Ruangan Cegah Virus Penyakit

Sekarang bakteriofag dikembangkan dengan rekayasa genetis yang mana masing-masing virus diuji kepada bakteri yang menjadi targetnya. Kemudian virus yang efektif dalam membunuh bakteri dimurnikan menjadi konsentrat yang kemudian disimpan sebagai stok bakteriofag.

Teknologi modern telah memungkinkan kita untuk lebih memahami tentang kompleksitas komunitas mikroba yang merupakan bagian dari tubuh manusia. Selain bakteri baik, kita sekarang tahu ada virus menguntungkan yang ada di usus, kulit dan bahkan darah lewat hadirnya bakteriofag.