Apakah Memakan Daging Manusia Buruk Bagi Kesehatan?

Mar 21, 2019 6:01 AM

Ilustrasi kanibal (Sumber foto: Pixabay)Ilustrasi kanibal (Sumber foto: Pixabay)

Kecuali Sumanto, mungkin bakal jijik sendiri membayangkan kanibalisme. Praktek kanibalisme sendiri telah ada di seluruh penjuru dunia jauh sebelum Sumanto memenuhi berita.

Di Eropa misalnya. Pada abad ke-17 lumrah menggunakan hasil gilingan kering mumi sebagai obat penyembuh sakit kepala. Tulang dan lemak manusia juga dipakai sebagai resep penghilang encok hingga mimisan. Salah satu contoh lainnya ada di Papua Nugini. Masyarakat suku Fore di negara tetangga kita itu memiliki budaya memakan otak dan tubuh anggota keluarga yang meninggal. 

Tapi pernah kah kamu iseng bertanya, selain alasan moral dan etika, bagaimana pengaruhnya kanibalisme terhadap kesehatan? Apakah memakan daging manusia berbahaya?

Dikutip dari video Science Insider berjudul Is Eating Humans Actually Unhealthy?, daging manusia memang rendah kalori dibandingkan daging babi dan sapi. Kalau kamu berpikiran gila, mungkin akan membayangkan betapa sehat dan tidak bikin gemuknya bila dibikin burger atau gulai.

Tapi tunggu dulu. Meskipun demikian, di dalam daging manusia bisa saja terkandung beragam penyakit mematikan yang akan membunuhmu. Keracunan makan pun tidak ada apa-apanya dibandingkan resiko satu ini. Kita bisa tertular penyakit penyakit mengerikan yang menular lewat darah bila memakan daging orang mentah-mentah. Sebut saja Hepatitis, HIV, hingga Ebola.

SUMANTOIndonesia pernah digegerkan dengan Sumanto, pria yang nekad memakan mayat manusia. (Photo: merdeka.com)

Resiko tersebut juga tidak serta merta hilang meski daging dimasak sangat matang. Contohnya seperti kasus pada masyarakat suku Fore di Papua Nugini. Tradisi kanibalisme mereka berakhir setelah ratusan orang pada kurun waktu 1950 sampai 1960-an meninggal akibat gangguan syaraf langka yang didapat dari memakan otak yang telah terinfeksi. Ternyata, jaringan otak yang dimakan tersebut mengandung protein berbahaya bernama prion yang dapat melubangi otak kita hingga berbentuk seperti spons. Prion tidak lenyap meski telah dimasak, dan jika termakan, sangat menular.

Sudah mau muntah membayangkannya?

Ngomong-ngomong, meski ilmu kedokteran sudah sedimikan maju di abad ke-21 ini, praktek kanibalisme tidak benar-benar lenyap dari dunia. Memang tidak memakan daging orang lain, melainkan bagian tubuh milik sendiri alias autocannibalism. Di zaman modern seperti sekarang, contoh autocannibalism yaitu placentophagy.

Placentophagy adalah ketika seorang wanita memakan plasentanya sendiri setelah melahirkan. Mereka percaya hal itu akan meningkatkan tenaga dan menstabilkan hormon sehingga mengurangi resiko depresi pasca melahirkan. Selebriti seperti Kim Kardashian dan Alicia Silverstone konon melakukannya. Sejumlah perusahaan di Amerika Serikat bahkan menyediakan jasa penggilingan plasenta menjadi bubuk untuk dikonsumsi layaknya menelan vitamin.

Perlu diketahui, dunia medis masih meragukan placentophagy ini. Badan penanggulangan penyakit di negeri Paman Sam pun memperingatkan bahwa placentophagy merupakan ide yang berbahaya karena bisa memindahkan bakteri berbahaya dari ibu ke anaknya.

Jadi, jangan melakukan kanibalisme apapun itu bentuknya. Yang wajar-wajar saja kalau tidak mau kenapa-kenapa.

(ruw)