Ada Bahaya di Balik Transaksi Non-Tunai, Apa Ya?

Mar 27, 2019 10:01 AM

Saat ini kita bisa menemukan dengan mudah bagaimana kita bisa membayar barang belanjaan kita tanpa harus menggunakan uang cash. Hal ini merupakan penemuan yang luar biasa baik. 

Baca juga: Sobat 'Misqueen' Terbanyak Dari Kaum Millennials? Kata Siapa?

Selain mengurangi tingkat kejahatan akibat harus membawa uang terlalu banyak dan risikonya kamu bisa dengan mudah menyimpan uang di dalam satu jenis kartu saja. Banyak perusahaan yang sudah mulai membuatnya, mulai dari OVO, Go-Pay dan masih banyak lainnnya.

cashlessIlustrasi penggunaan uang elektronik. (Photo: pixabay)

Bank Indonesia mencatat bahwa peningkatan terus terjadi oleh masyarakat yang menggunakan transaksi non tunai. Tahun 2011 tercatat transaksi tersebut mencapai Rp 981M, hingga pada tahun 2017 meningkat drastis menjadi Rp12.375 T. Peningkatan yang terjadi diakibatkan karena gencarnya para perusahaan tersebut memberikan promo yang tidak bisa ditolak pelanggan. Hingga pada tahun 2018 meningkat menjadi Rp31,6 T tercatat per bulan September 2018.

Dengan tingkat pertumbuhan yang begitu pesan membuktikan bahwa masyarakat semakin semangat membeli banyak barang dengan menggunakan pembayaran non tunai. Misalnya OVO dengan promonya hanya membayar 1 rupiah kemanapun kamu pergi dengan menggunakan ojek online. Saat ini OVO juga mulai merangsek ke dunia e-commerce setelah mengetahui bahwa banyaknya masyarakat yang berbelanja di sana. OVO sudah bisa ditemukan saat kamu mengakses Tokopedia. OVO sudah menggusur TokoCash yang sebenarnya hasil dari inisiasi tokopedia.

Baca juga: Jangan Heran, Ternyata Ini Rahasia Orang Kaya Semakin Kaya

Tak hanya OVO saingannya pun terus berkembang yaitu Go-Pay. Uang elektronik yang berasal dari PT. Dompet Anak Bangsa ini terus mengikuti jejak OVO. Dengan mudah Go-Pay akan terintegrasi dengan Go-Jek yang memang berdiri di satu perusahaan. Go-Pay pun tak berhenti dipelayanan ojek online, mereka juga bisa kamu temukan di banyak gerai makanan dan minuman pinggir jalan. Sampai pada promosi yang diberika Go-Pay untuk pembelian di kedai CFC, Wingstop, dan HokBen. Promosi dari segala lini dilakukan demi bertahan dan menyaingi OVO.

Sumber foto: FreepikMudah tapi bikin boros!

Data mengatakan hingga 2017 pengguna aktif Go-Pay tercatat hingga 11jt orang sementara OVO mencapai 60jt orang. Berbedaan yang cukup signifikan untuk ke duanya tetapi memang jika kita perhatikan OVO punya jangkauan yang lebih luas dibandingkan dengan Go-Pay. Dari situ lebih adil memang jika kita melihat dari seberapa modal dan usaha yang dilakukan masing – masing perusahaan.

Promosi kedua perusahaan ini banyak mempengaruhi kehidupan orang. Seorang pelanggan ke duanya mengatakan dia bisa memilih dimana lokasi makan yang ada promosi sesuai dengan budged yang dia letakkan didalam kartu pembayaran mereka. Kendalanya berdasarkan wawancara dengan pelanggan tersebut adalah masih rumitnya tahapan yang harus dilewati pelanggan untuk membayar. Proses membuka aplikasi yang kadang tergantung signal handphone menyulitkan banyak pellanggan yang ada.

Baca juga: Kenapa Minum Kopi Sekarang Menjadi Identitas Anak Gaul?

Tanpa disadari kegiatan menggunakan non tunai bisa mengubah gaya hidup orang. Begitu juga dengan masyarakat Indonesia yang akan semakin menjadi konsumerisme. Tercatat peningkatan belanja hingga tiga kali lipat sejak tahun 2017 ke 2018, artinya uang keluar meningkat senilai 1,78M. Menurut Wasis Raharjo Jati dari LIPI, teknologi akan berpegaruh untuk kegiatan dan kehidupan orang kelas menengah. Dengan begitu masyarakat akan lebih konsumtif. Di banyak negara maju orang banyak menjadi lebih impulsive yaitu bertingkah dengan tidak terencana. Dengan hadirnya pembayaran nontunai sedikit banyak akan membuat kamu menjadi orang yang impulsif. (gn)